[CERPEN] Antara Aku dan Mobil - Karya Darma Yani


Sore itu, Rafa dengan semangat pergi ke sebuah kafe di jalan Dago. Dia datang tanpa membawa si Putih, motor matic kesayangannya. Dengan wajah yang berseri-seri, Rafa sabar menunggu kedatangan seseorang.

Jam menunjukkan pukul 5 sore. Sebuah mobil Sedan hitam datang dan menepi di depan kafe. Rafa pun beranjak dari duduknya dan berjalan menghampiri mobil tersebut. Senyumnya merekah ketika melihat kondisi mobil itu begitu mulus dan mengkilap.

Seorang laki-laki bertubuh gemuk dan berkacamata keluar dari mobil Sedan hitam itu. Dengan senyum tipisnya, dia menjawab sambutan Rafa. Tanpa berlama-lama, mereka pun berjalan masuk ke dalam kafe.

“Jadi, lo yakin mau beli mobil gue?” tanya laki-laki gemuk itu memulai pembicaraan.

“Kalau harga dan kondisi mobilnya cocok, kayaknya gue lanjut,” jawab Rafa yakin.

“Ok, sebelumnya, gue perkenalkan diri dulu nih ya, biar enak nih negosiasinya,” ujar laki-laki gemuk itu, nama gue Doni. Gue masih mahasiswa di Universitas Pelita Bunda. Gue punya cerita di balik mobil ini,” sambung laki-laki gemuk itu yang ternyata bernama Doni. “Eh, By the way, nama lo siapa?” tanya Doni.

“Rafa, gue mahasiswa di Universitas Buana Surya,” jawab Rafa.

“Buana Surya? Semester berapa? Jurusan apa?” tanya Doni tampak begitu penasaran.

“Desain Grafis, semester lima,” jawab Rafa.

“Wah, kebetulan banget sih ketemu sama anak Buana Surya,” ujar Doni sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Lha, emang kenapa?” tanya Rafa jadi penasaran.

“Gini nih, gue cerita ya. Gue naksir anaknya rekan bisnis bokap gue, gue enggak akan bilang namanya, entar lo tau lagi. Kan lo ama dia sekampus,” ujar Doni mulai bercerita seakan mereka sudah saling kenal lama. Padahal mereka baru bertemu hari ini untuk jual beli mobil.

“Terus?” tanya Rafa mulai tertarik dengan cerita Doni.

“Bokap gue tahu kalau gue naksir dan udah sering banget tuh bokap gue bilang ke bokapnya dia, buat ngejodohin. Tapi, bokapnya bilang gimana anaknya aja,” sambung Doni. “Si cewek enggak jawab Bro. Malah lebih sering menghindar,” sambung Doni dengan ekspresi wajah yang kecewa.

“Gue juga udah nyatain langsung. Tapi tetep, dia enggak ngasih jawaban, Bro,” ujar Doni tertunduk lesu,tapi, itu enggak bikin gue nyerah. Gue berusaha tarik perhatiannya dia. Gue stalking akun sosial medianya. Dia suka K-Pop, gue dandan kayak orang Korea, Bro,” ujar Doni menceritakan perjuangannya.

Rafa sedikit terkejut, kemudian dia memandang Doni dari ujung kepala sampai ujung kaki. Badannya yang gemuk gempal seperti ini, berdandan Korea? Membayangkannya pun membuat Rafa bergidik.

“Masih gagal, Bro. Kedua kalinya gue enggak nyerah. Pas ada acara gathering di kantor bokap, si dia dateng, gue tarik perhatiannya, Bro. Pake nyanyi lagu Korea,” sambung Doni tampak bersemangat.

“Keterima?” tanya Rafa penasaran.

“Enggak,” jawab Doni singkat,terus, gue kasih tiket liburan ke Korea. Dia tetep nolak gue. Bingung gue, Bro,” ujar Doni mengusap kepalanya.

“Hubungannya sama mobil apaan, Don?” tanya Rafa mulai merasa jenuh.

“Mobil ini, gue beliin buat hadiah ulang tahun dia. Tapi, di tolak juga. Daripada gue sakit hati mulu, liat mobil ini, ya udah, gue jual aja,” jawab Doni enteng.

“Tapi bener nih lo mau jual mobil ini lima puluh juta?” tanya Rafa meminta kepastian.

“Iyah, gue jual murah aja, biar cepat laku,” jawab Doni asal.

“Tajir amat lo,” sahut Rafa.

“Lo baru tahu? Gue anak tunggal dari pengusaha tour and travel. Jelaslah gue tajir,” ujar Doni menyunggingkan senyum sombongnya.

“Oh, maaf, gue kagak tahu tuan muda. Gue cuman anak yatim yang punya usaha sampingan sablon kaos,” sahut Rafa memberi hormat kepada Doni dengan menyatukan kedua telapak tangannya.

Engak apa-apa, lo jadi temen gue sekarang. Kalau lo butuh apa-apa, bilang aja ama gue,” sahut Doni seakan-akan mereka sudah berteman cukup lama.

Mereka pun beranjak dari duduknya dan berjalan menuju mobil yang terparkir. Mobil Sedan hitam keluaran Jepang tahun 2019 ini dihargai sekitar 225 juta. Rafa mengecek kondisi mobil Sedan itu yang ternyata masih mulus luar dalam. Keadaannya masih sama seperti ketika mobil tersebut keluar dari dealer.

“Jadi, mobil ini enggak berhasil nih menarik perhatian cewek itu?” tanya Rafa.

“Gue udah nyerah. Lagian, gue udah punya pacar baru kok, yang gue rasa jauh lebih baik dari cewek itu,” jawab Doni percaya diri.

Setelah Rafa selesai memeriksa kondisi mobil tersebut, mereka pun sepakat untuk melakukan jual beli. Rafa membeli mobil itu dengan harga 50 juta yang Rafa bayar secara tunai.

“Makasih ya, udah mau jual beli ama gue. Semoga bermanfaat, ya, mobilnya,” ujar Doni menjabat tangan Rafa.

“Sama-sama. Semoga langgeng, ya, ama pacar lo,” sahut Rafa.

Kemudian, terdengar suara klakson mobil seiring menepinya mobil SUV putih. Seorang wanita berambut keriting dan berwajah hitam manis membuka jendela mobilnya. Dia melambaikan tangannya pada Doni.

“Malika, pacar gue udah jemput. Sekali lagi, makasih banyak ya. Lo simpen aja nomer gue, kalau butuh apa-apa, lo bisa hubungin gue,” ujar Doni seraya pergi.

Dengan senyuman bahagia dan tatapan bangga, Rafa akhirnya bisa memiliki mobil yang sudah lama ia impikan. Uang hasil usaha sablon kaosnya berhasil dia kumpulkan dan akhirnya bisa membeli mobil yang bagus dengan harga yang miring.

“Saatnya bertemu dengan si cantik, Aknes,” ujar Rafa sembari masuk ke dalam mobil barunya.

Dengan perasaan yang amat sangat bahagia, Rafa mengendarai mobil menuju ke rumah pujaan hatinya. Kali pertama Rafa bertemu dengan Aknes adalah saat mereka sama-sama daftar kuliah di Universitas Buana Surya. Saat itu, Rafa seperti kebingungan mencari tempat pendaftaran dan tanpa sengaja bertemu dengan Aknes.

“Oh, kamu baru mau daftar juga, ya, ke UBS ini?” tanya Aknes lembut waktu itu.

“Iya,” jawab Rafa mulai kehilangan fokus ketika melihat senyum manis dan suara lembut Aknes.

“Ayo, kita barengan aja,” sahut Aknes mengajak dengan sopan.

Tanpa disangka ternyata mereka daftar di jurusan yang sama, yaitu Desain Grafis. Mulai saat itulah, mereka menjadi berteman. Walaupun sebenarnya ada rasa yang lebih dari sekadar teman yang dirasakan Rafa. Namun, Rafa belum bisa mengungkapkannya dengan pasti.

Apalagi masalah ekonomi menjadi salah satu penyebab ketidakpercayaan diri Rafa. Aknes adalah anak bungsu dari tiga bersaudara, dia anak perempuan satu-satunya. Ayah ibunya adalah pengusaha catering yang cukup terkenal, sedangkan Rafa, dia adalah anak yatim yang kuliah dengan biaya beasiswa. Untuk menambah-nambah pendapatannya, Rafa membuka sebuah jasa sablon kaos yang sudah digelutinya dari dia duduk di bangku SMA.

Ketika Rafa mendapatkan info penjualan mobil murah ini, tiba-tiba saja Rafa merasa percaya dirinya meningkat, sehingga dia berani mengajak Aknes untuk pergi menonton bioskop bersamanya.

“Mudah-mudahan, dengan mobil ini, Aknes enggak malu jalan ama gue,” ujar Rafa mengelus-elus stir mobilnya.

Rafa memarkirkan mobilnya di depan rumah Aknes. Rafa menghela napas panjang dan memandangi rumah Aknes yang cukup besar. Tiba-tiba saja, ada rasa ragu dalam dirinya. Untuk beberapa saat Rafa terdiam. Lamunan Rafa buyar ketika ponselnya berbunyi. Aknes meneleponnya.

“Kamu di mana?” tanya Aknes di sambungan telepon.

“Aku di—di depan,” sahut Rafa gugup. Dia pun segera keluar dari mobilnya dan berjalan menuju ke gerbang pintu rumah. Aknes membuka pintunya.

“Yuk, berangkat!” ajak Aknes.

“Aku punya kejutan buat kamu,” ujar Rafa.

Rafa pun menutup mata Aknes dan membimbingnya keluar dari halaman rumah. Sesampainya di depan mobil, Rafa perlahan membuka mata Aknes.

“Tara! Aku berhasil beli mobil dari usahaku sendiri!” seru Rafa dengan nada bahagia.

Aknes terpukau, matanya berbinar. Namun, tiba-tiba saja dia tertawa terbahak-bahak ketika melihat plat nomor mobil tersebut. Rafa yang kebingungan mencari-cari apa yang sebenarnya membuat Aknes tertawa.

Masih dengan tawanya, Aknes menunjuk ke plat nomor mobilnya yang bertuliskan B 49 NES yang secara tidak langsung, bisa di baca Aknes. Melihat itu, Rafa makin kebingungan. Setelah Aknes tenang, mereka masuk ke dalam mobil, barulah Aknes menceritakan penyebab dirinya tertawa.

Ternyata, perempuan yang ditaksir Doni itu adalah Aknes. Mobil itu sebenarnya adalah hadiah untuk Aknes dari Doni. Namun, Aknes menolaknya.

“Kenapa kamu nolak Doni? Dia kan sama kayanya sama kamu,” tanya Rafa.

“Karena aku lebih milih kamu,” jawab Aknes membuat hati Rafa melompat tinggi ke udara. Pipinya memerah panas, matanya berbinar bahagia.


TENTANG PENULIS

Namanya Darma Yani, lahir di Sukabumi 18 Desember. Kesehariannya disibukkan mengurus ketiga anaknya dan bekerja di salah satu rumah sakit. Di sela-sela kesibukannya itu, dia selalu menyempatkan diri untuk menulis. Walau masih belum sempurna, dia akan terus belajar. IG: @darma_yani18.


Posting Komentar untuk "[CERPEN] Antara Aku dan Mobil - Karya Darma Yani"