[CERPEN] Tanggung Jawab - Karya Atria59

Seorang wanita disodorkan amplop bertuliskan Program Kerja Layar Muhibah oleh seorang komandan. Lantas, Komandan bertanya ketersediaan si wanita untuk mengikuti program tersebut. Sekilas membaca amplop, wanita itu mengangguk tanda setuju. Kemudian, meninggalkan ruangan dan menuju ruangan lain bertuliskan "Psitera". Ia masuk dan duduk kembali di mejanya, melanjutkan membaca amplop sembari menuliskan beberapa catatan dan kemudian menghubungi nomor yang tertera via chat. Berselang beberapa menit, terdengar bunyi notifikasi balasan. Setelah membaca pesan, wanita itu langsung keluar dari ruangan dan berbicara pada temannya jika akan meninggalkan satuan dinas untuk pergi ke pelabuhan.

Sesampainya di pelabuhan, wanita itu mencari kapal tiang tinggi berwarna kuning bertuliskan Dewa Ruci dan memarkirkan mobilnya yang tidak jauh dari sana. Di atas kapal, ia terkejut bertemu dengan seseorang yang ia kenal, lalu spontans memberi hormat. Berbicara sepatah kalimat, wanita itu meninggalkan orang yang ia temui dan bergegas menuju anjungan. Di dalam anjungan, ia terpaku pada orang yang fokus mengukur jarak di peta, lalu matanya beralih melihat nama bertuliskan "Rafsanjani".

Merasa ada yang masuk ke dalam anjungan, lelaki itu menghentikan aktivitasnya kemudian menatap si wanita.

“Ada yang bisa dibantu? Oh, ini Bu Rani, ya? Salam kenal, saya Rafsanjani, biasa dipanggil Rafa,ucapnya cembari mengulurkan tangan dan tersenyum.

“Saya Rani, panggil nama langsung saja, Pak, karena saya masih muda, hehe.”

“Kalau boleh tau, umurnya berapa?”

“Saya dua puluh empat, Pak”

“Dipanggil “Adek”, mau? Tapi takut nggak sopan.”

“Boleh, senyaman Bapak saja.”

“Oke, halo, Dek. Jangan panggil Bapak, ya, kelihatan tua.”

“Kak Rafa. Kenapa malah kedengaran kaya oknum gitu? Hahaha.”

“Oknum? Orang limitted edition begini dibilang oknum. Panggil Abang aja biar keren. Kalau “Kakak berasa di pramuka.”

“Hehe, maaf abis lucu banget.”

“Kayanya kamu korban halo, Dek. Ya udah gimana kalau mulai bahas konsepnya. Enaknya di mana, ya. Kalau di sini sempit, sih.”

“Sembarangan. Di lounge room aja ada meja kursinya, Bang.”

“Malu banget, yang dinas di kapal siapa, yang paham tempat siapa.”

“Wajar, manusia. Beda cerita kalau di kapal sejenis LPD. Nyasar mulu yang ada.”

Fitriani atau Rani, seorang perwira lulusan sarjana Psikologi yang sedang melanjutkan pendidikan untuk meraih gelar Psikolog, sedangkan Rafsanjani atau Rafa, seorang tentara berpangkat letnan satu korps pelaut. Kini, jabatannya sebagai komando perwira divisi di KRI Dewa Ruci.

Rani memberikan konsep yang ia rancang sebelum berangkat ke pelabuhan. Sasaran layar muhibah kali ini ditujukan generasi muda anak SMA untuk menumbuhkan jiwa kebaharian, mengingat identitas Indonesia adalah negara maritim. Sebagai praktisi psikologi, Rani akan memberi psikotes kepada peserta dengan tujuan mengetahui kelayakan serta meminimalkan hal yang tidak diinginkan. Dilanjut materi dan permainan interaktif untuk memeriahkan acara. Rani senang dengan cara bicara Rafa karena sopan dan lembut. Ia merasa cocok dengan Rafa; tidak banyak permintaan dan mempercayakan konsep acara pada Rani.

Rani dan Rafa menjadi sering bertemu karena masih harus memantau perkembangan acara bersama-sama. Sebulan berlalu dan hampir setiap hari mereka bertemu. Tidak pernah ada perselisihan berlebih di antara keduanya. Rani tidak bisa tidur memikirkan bagaimana acara yang telah ia buat konsepnya itu. Akan tetapi, Rafa selalu mendukungnya. Rafa berbicara ke Rani bahwa semua akan baik-baik saja karena mereka sudah melakukan yang terbaik.

Hari ini adalah hari pertama acara layar muhibah. Titik kumpul peserta di gerbang bertuliskan "Komando Armada II" disertai bus untuk akses menuju pelabuhan. Rani mengamati wajah dari setiap peserta, ada yang senang, takut, bahkan dia sendiri tidak mengerti apa arti ekspresi yang ditunjukkan. Setelah melewati penjagaan di pelabuhan, mereka berhenti di jembatan dekat tempat kapal bersandar. Rani mengarahkan sebelum memasuki kapal, para peserta harus hormat ke bendera merah putih.

Semua kegiatan di atas kapal adalah tanggung jawab Rafa. Upacara pembukaan digelar, ABK Dewa Ruci mulai menempati peran masing-masing dan kapal mulai menjauh dari pelabuhan. Peserta diberi waktu menyesuaikan diri. Rafa menyuruh Rani untuk beristirahat karena terlihat lelah. Tanpa mempertimbangkan, Rani langsung menolak. Untuk pertama kalinya Rafa merasa ingin memaksa kehendak Rani, tetapi hal itu ia urungkan karena Rafa ingin menghormati keputusan Rani.

Materi pertama adalah peraturan umum dinas dalam terkait peraturan yang dipatuhi dan dihindari selama berada di dalam kapal. Karena kapal dalam keadaan berlayar, para peserta diminta untuk lebih berhati-hati supaya tidak mudah jatuh. Saat makan bersama, Rafa mengajak Rani. Namun, Rani menolak dengan alasan semua peserta belum selesai makan. Untuk kali kedua Rafa ingin memaksa kehendak Rani karena kenyataannya ia belum makan dan istirahat.  Rani berhak menolak, tetapi ia luluh dengan mengiyakan ajakan makan bersama oleh Rafa. Rani merasakan sesuatu yang baru dalam hidupnya bahwa ada orang yang peduli pada dirinya.

Saat ini, para peserta berkumpul di geladak kapal sudah menggunakan alat keselamatan lengkap. Materi peran layar. KRI Dewa Ruci adalah salah satu kapal layar tiang tinggi. Setiap pos diisi oleh beberapa peserta dan mereka wajib mengikuti instruksi dari ABK. Kegiatan berjalan lancar hingga beberapa siswa menjadi tidak kondusif sehingga melepaskan tali yang seharusnya digenggam. Rani yang melihat tali itu mengarah ke atas, dengan sigap menarik tali itu hingga tangannya berdarah karena tergores. Ia sudah menyelamatkan tali layar supaya tidak naik ke atas. Namun, seorang Rafa menjadi panik dan langsung menyuruh Rani untuk segera ke balai kesehatan.

“Serius itu, Lettu Rafa? Pertama kali lihat Padiv sekhawatir itu,” ucap salah satu anak buah kapal yang melihat kejadian tersebut.

Rani merasa bahwa lukanya tidak sedalam itu dan hanya luka biasa. Akhirnya, Rafa sedikit menarik Rani. Namun, masih dengan kelembutan. Kemudian, Rafa mengobati Rani dalam diam. Kejadian ini membuat Rani tidak disapa oleh Rafa. Sampai malam tiba, Rani memberanikan diri untuk bertemu Rafa. Rani berharap semoga hari ini Rafa masih tetap berjaga. Tuhan mengabulkan doa Rani. Ia menemui Rafa di haluan kapal dan duduk di sebelahnya.

“Bang Rafa marah sama Adek? Maaf ini cuma luka kecil. Adek udah enggak pa-pa.”

“Sesulit itu untuk nurut sama orang?”

Rani tertegun dengan pertanyaan yang dilontarkan Rafa. Belum sempat menjawab Rafa melanjutkan kalimatnya.

“Abang tau Adek mandiri, tapi bukan berarti enggak mau terima bantuan orang lain. Jangan lupa, Abang penanggung jawab kegiatan ini. Jadi, Adek masuk tanggung jawab Abang. Abang diam karena malu, Dek. Malu karena enggak bisa jaga keselamatan orang di kapal.”

“Maaf ya kalau Adek batu. Kejadian hari ini juga bukan sepenuhnya salah Abang. Jadi, jangan merasa bersalah terus, ya? Adek janji habis ini nurut apa kata Abang, tapi Abang berhenti nyalahin diri sendiri, ya.”

“Janji?”

“Iyaa, janji. ”

“Eh, tapi Abang juga enggak jujur sama diri sendiri, loh.”

“Gimana?”

“Jangan terlalu keras sama diri Abang. Abang peduliin Adek, tapi enggak peduliin diri sendiri.

“Sebegitu kerasnya Abang menurut Adek?”

“Iya, keras banget. Kakuuuuu.

“Sebagian besar karena tuntutan. Oke, Abang akan mulai belajar buat lebih jujur, tapi Adek juga harus mau nerima bantuan Abang. Setuju?”

“Setujuuuu.

Kemudian, keduanya tertawa renyah.

Hari ini adalah hari terakhir mereka berlayar sebelum kapal kembali bersandar ke pelabuhan. Jangkar kembali dinaikkan dan kapal kembali berlayar ke Pelabuhan Armada Dua. Sebelum kegiatan berakhir, mereka melakukan foto bersama. Rani merasa sedih karena harus berpisah dengan Rafa. Tanpa sadar ia mulai terbiasa dengan kehadiran Rafa. Rani berpisah dengan Rafa karena harus mengantarkan para peserta untuk kembali ke gerbang pelabuhan.

Meskipun sebulan  berlalu, Rafa dan Rani tetap bertemu ketika mereka libur. Komunikasi di antara keduanya tetap terjaga. Karena kerja sama sangat baik, mereka kembali dipanggil komandan untuk melaksanakan program kerja pelayaran dengan peserta yang berbeda.

Saat ini mereka sedang berada di restoran untuk makan malam.

“Abang ralat, ternyata Adek bukan tanggung jawab waktu di atas kapal aja, tapi-

“Tapi apa?

“Jadi tanggung jawab di sisa akhir hidup Abang, mau?”

“Hahaha, mau!

Rafa mengeluarkan cincin kemudian memakaikannya ke Rani.

 

TENTANG PENULIS

Karya yang baru kalian baca adalah karya perdana penulis pemula dengan nama pena Atria59. Memiliki nama asli Marta Dila Wulandari Fitriani dengan kesibukan utama saat ini menjadi seorang mahasiswa Psikologi semester 4. Dia merupakan pendengar yang baik dan langsung saja hubungi Instagram-nya, @martadilaawf. Terima kasih!

Posting Komentar untuk "[CERPEN] Tanggung Jawab - Karya Atria59"