[CERPEN] Just an Illusion - Karya Aknes Wulandari, dkk

Pagi yang cerah di kota kecil, ada seorang laki-laki muda bernama Kalingga. Ia adalah seorang barista di kafe kecil yang tersembunyi di sudut jalan, Kafe Kenangan. Sepulang dari kampus, Kalingga langsung pergi ke Kafe Kenangan itu untuk bekerja. Kalingga tidak hanya membuat kopi yang lezat, tetapi juga menawarkan senyuman hangat kepada setiap pelanggan yang datang.

Setiap hari, kafe itu dipenuhi dengan aroma kopi yang memikat dan tawa pelanggan yang ceria. Kalingga selalu mengenakan senyuman di wajahnya saat melayani pelanggan. Ia tahu betul setiap orang memiliki cerita. Ia suka mendengarkan cerita-cerita itu sambil menyajikan cappuccino atau latte yang sempurna.

Ketika Kalingga sedang sibuk menyeduh kopi, seorang pelanggan muda bernama Ryan, datang dengan wajah muram. Dia duduk di kursi di depan mesin espresso, menatap dengan ekspresi kosong.

"Ada yang bisa saya bantu?" tanya Kalingga dengan ramah.

Ryan mengangguk. "Gue ngerasa lelah dengan semua masalah yang gue hadapi. Rasanya dunia ini berat banget."

Kalingga tersenyum lembut. "Kopi bisa bikin hari kamu lebih baik. Dan, mendengarkan cerita orang lain juga bisa membantu. Ceritain aja ke saya, mungkin itu bisa buat kamu ngerasa lebih baik."

Ryan mulai menceritakan ceritanya. Kalingga mendengarkan dengan penuh empati, sesekali memberi senyuman tanda mengerti.

Seiring berjalannya waktu, Ryan mulai merasa lega dan lebih baik karena bisa berbagi beban dengan orang lain. Dari hari itu, kafe itu menjadi tempatnya mencari kedamaian. Setiap kali merasa tertekan, Ryan akan datang ke kafe dan bercerita kepada Kalingga.

Kalingga menjadi lebih dari sekadar barista bagi pelanggannya. Ia adalah pendengar setia, teman, dan penyemangat. Melalui secangkir kopi, ia membantu orang-orang melewati masa-masa sulit dan merasakan kehangatan dalam kebersamaan.

Ketika hari-hari berlalu, kafe itu tidak hanya menjadi tempat untuk menikmati kopi terbaik di kota kecil itu, tetapi juga menjadi tempat di mana cerita-cerita hidup bermekaran, di mana setiap tegukan kopi diiringi dengan kehangatan persahabatan yang tulus.

***

Sepulang dari kampus, Kalingga langsung bergegas menuju kafe. Di perjalanan, Kalingga merasa ada yang mengikuti dirinya. Namun, ternyata tidak ada. Sesampainya di kafe, Kalingga ke tempat loker untuk berganti baju kerja. Setelah selesai, Kalingga menuju ke mesin kopi untuk bekerja.

"Tumben telat, Ga?"

"Iya, tadi ada kelas tambahan."

Teman Kalingga hanya ber-oh saja.

Di pojok kanan dekat jendela, ada dua orang pria yang sedang memperhatikan Kalingga sedari tadi, sebelum Kalingga masuk kerja pun, dua orang pria itu sudah ada di sana.

Kebetulan salah satu karyawan sedang cuti, jadi Kalinggalah yang mengantarkan pesanan tersebut ke dua orang pria tersebut.

Sesampainya di sana, tatapan mereka sangat aneh, setelah menaruh dua cangkir kopi di atas meja, Kalingga yang diperhatikan seperti itu pun merasa tidak nyaman lalu memberanikan diri untuk bertanya kepada kedua orang tersebut.

"Ada apa ya, Pak?"

"Oh, tidak. Wajahmu ingatkan saya pada anak bungsu saya yang sudah meninggal. Maaf ya, Nak," sesal pria tersebut.

Kalingga hanya mengangguk. Namun, tanpa Kalingga sadari, ada ayahnya yang melihat itu semua. Nama ayah Kalingga adalah Tara. Tara tidak suka jika anaknya bekerja di luar, ia lebih menginginkan Kalingga bekerja di perusahaan miliknya.

Hari mulai larut, kafe pun akan segera ditutup. Setelah berpamitan dengan teman-teman, Kalingga pun langsung meninggalkan kafe. Kalingga ternyata tidak langsung pulang, dia mampir dulu ke suatu tempat yang bisa menenangkan pikirannya. Danau. Ya, danau yang tak jauh dari komplek perumahan tempat tinggal Kalingga.

Setelah sampai di danau, Kalingga mencari tempat duduk. Namun, ia mendapati ada seorang gadis yang sedang duduk sendirian.

"Permisi, boleh ikut duduk?" tanya Kalingga. Gadis itu tidak menanggapi. Setelah cukup lama berdiam diri, Kalingga sudah sedikit tenang dan siap untuk menemui sang ayah nanti di rumah.

***

Sesampainya di rumah, keadaan gelap gulita. Yang Kalingga berpikir akan aman kali ini. Namun, siapa sangka, saat Kalingga ingin melangkahkan kaki menuju kamar, tiba-tiba lampu menyala.

"Habis dari mana kamu?" tanya Tara dengan nada yang santai, tetapi tegas. Kalingga hanya terdiam. Tara yang tak kunjung mendapat sahutan dari Kalingga pun marah.

"Jawab Ayah, Lingga! Abis dari mana kamu?!" bentak Tara, "oh, masih tetap tidak mau menjawab? Ok kalau be—" Ucapan Tara dipotong begitu saja oleh Kalingga.

"Lingga habis dari kafe, Yah."

"Kafe? Mau sampai kapan kau seperti itu, Kalingga Zain Pratama?! Kamu tuh anak yang tidak tahu diri! Udah baik saya kasih kamu pekerjaan yang enak. Eh, malah kamu milih kerjaan yang seperti itu. Mau ditaruh di mana muka Ayah ini, Lingga?"

Kalingga hanya bisa menundukkan kepala dan sebisa mungkin tidak menangis.

"Dengar saya, Lingga?" Kali ini, Kalingga mengangguk samar. Kemudian, Tara menyuruh Kalingga ke kamar.

***

Hari ini, Kafe Kenangan tutup lebih cepat dari biasanya. Pukul 18.00, semua karyawan sudah dipersilakan untuk pulang. Entah apa yang membuat bos menutup kafe lebih cepat, tetapi yang jelas, ini menguntungkan untuk Kalingga karena dirinya sedang tidak fokus bekerja.

Semenjak orang tua Kalingga tahu jika pekerjaan putranya sebagai barista yang membuat mereka murka tempo hari, pikiran Kalingga berkecamuk. Menjadi barista adalah keinginan Kalingga dari dulu, bahkan dia punya impian untuk membangun kafe sendiri ketika modalnya sudah cukup. Namun, orang tuanya sangat menentang keinginannya, mereka keukeuh ingin Kalingga bekerja di kantor. Katanya, memalukan sekali lahir dari keluarga kaya, tetapi hanya bekerja sebagai tukang pembuat kopi.

Apakah barista serendah itu di mata orang tuanya? Padahal menjadi barista membutuhkan skill yang tidak semua orang bisa miliki, bukan?

Kalingga memutuskan untuk pulang dengan berjalan kaki, dirinya juga tidak langsung ke rumah karena malas bertemu orang-orang di dalamnya. Kali ini, menjelajah taman kota menjadi destinasi Kalingga. Sayangnya, sebelum dirinya sampai tujuan, langit menangis membasahi bumi.

"Semesta ternyata ikut berduka dengan keadaanku sekarang, sampai-sampai ingin menemaniku menangis." Air mata Kalingga tumpah tanpa perintah, meluapkan segala perasaan yang membuatnya sesak. Siapa yang tidak sedih ketika mimpinya tidak mendapat dukungan orang tua? Kalingga rasa tidak ada.

Ia lelah, dari dulu orang tuanya menjadikan Kalingga robot yang harus patuh pada perintah. Jika Kalingga tidak nurut, siap-siap saja mendapat hukuman. Terkadang, Kalingga iri dengan teman-temannya yang cita-citanya didukung penuh oleh orang tua, diberikan semangat dan juga doa. Tidak seperti Kalingga.

Duduk di tengah jalan, memejamkan mata menikmati hujan yang terus membasahi tubuhnya. Ternyata seseru ini menangis di bawah guyuran hujan. Meski kedinginan, Kalingga enggan beranjak dari tempatnya sekarang. Sampai akhirnya, ia mengerutkan kening ketika tidak lagi merasakan air yang menyerbu dari atas. Ia membuka mata dan mendongak.

"Kalau punya masalah itu larinya ke Tuhan, jangan ke tengah jalan. Nanti kalau kamu ketabrak, ngerepotin banyak orang."

Kehadiran gadis yang sekarang berada di hadapan Kalingga, membuatnya terkejut. Terlebih, gadis ini bisa mengetahui bahwa dirinya sedang memiliki masalah. "Maksud kamu?" tanya Kalingga yang pura-pura tidak mengerti.

"Tidak perlu pura-pura begitu, saya tau kamu sedang ada masalah sampai-sampai kamu seperti ini. Walau bibirmu berkata lain, sorot matamu tidak bisa berbohong."

Kalingga tidak menjawab apa-apa, ia hanya memperhatikan gadis itu.

"Ayo cepat bangun, kita berteduh di halte depan! Aku tidak mau ikut tertabrak jika nanti ada truk lewat karena aku ingin melindungimu dari hujan."

Kalingga memalingkan wajahnya ke samping. "Aku tidak menyuruhmu melindungiku."

"Tapi aku ingin! Sudahlah jangan keras kepala." Gadis yang belum Kalingga ketahui namanya itu mengambil salah satu tangan Kalingga dan menariknya. Kalingga yang sedang malas berdebat akhirnya mengalah dan menuruti gadis itu.

"Sebenarnya kamu siapa, sih?" tanya Kalingga ketika keduanya sampai di halte.

Gadis itu menaruh payungnya, lalu tertawa. "Ah, iya, aku belum memperkenalkan diriku." Dia menyodorkan tangannya dan berkata, "Namaku Renjana."

Kalingga menjabat tangan Renjana dan memperkenalkan dirinya juga. Setelah itu, Kalingga tidak berkata apa pun lagi, dirinya hanya menurut saja ketika Renjana memberikan jaket dan juga secangkir teh hangat yang entah dari mana didapatkan. Mungkin di sekitar halte ada warung.

Renjana terus mengajak Kalingga berbicara, keduanya duduk di halte sampai hujan reda. Setelah hujan reda, Renjana menawarkan Kalingga untuk mampir ke rumahnya yang kebetulan tidak terlalu jauh. Namun, Kalingga menolak karena sudah malam. Akhirnya, mereka berpisah untuk menuju rumah masing-masing. Perasaan Kalingga yang sudah mulai membaik berkat beberapa lelucon yang sempat dilontarkan Renjana membuatnya pulang diiringi senyuman.

***

Sehabis dirgantara menumpahkan semua sedihnya. Ia masih tampak murung. Tak ada semburat jingga yang menandakan akan berpulangnya sang mentari dari melalui jalur barat. Penggantinya ialah awan kelabu yang sama sendunya seperti angkasa raya hari ini. Kalingga pun begitu. Ia baru menyelesaikan pekerjaannya. Ia berjalan sambil menunduk, bukan pertanda ia adalah sosok yang pemalu, tetapi mengingat bahwa setelah ini harus kembali ke rumah berisik yang membuat pilu. Perasaan hampa itu merayapi hatinya. Ia berharap akan bisa bebas dari rumah itu, menjadi manusia sebagaimana manusia yang harus menjadi manusia.

"Kalingga! Tunggu dulu!"

Kalingga tertegun, buyar pikiran kosongnya. Kemudian, ia menolehkan kepala ke belakang, ke arah sumber suara. Tak butuh waktu lama baginya untuk dapat mengenali sosok yang akrab. Renjana ada di belakang sana mengenakan gaun berwarna merah pekat dengan sepatu hitam, serta tambahan pita yang cukup besar di kedua pasang sepatu. Rambutnya dibiarkan terurai bebas, tetapi tetap terkesan rapi. Ia masih setia memegang payungnya meskipun langit tak lagi menangis tersendu-sendu. Masih ada sedikit rinai yang turun bebas.

"Nja, kenapa tiba-tiba ada di sini?"

"Enggak tiba-tiba kok, Lingga, he-he," kata Renjana cengengesan.

"Aku sengaja kok ketemu kamu. Semuanya sudah terencana."

"Dalam rangka apa? Mau ngobrolin sesuatu, Nja?" Kalingga berusaha menerka, tetapi Renjana bergeming untuk memberikan jawaban atas pertanyaannya.

"Kalingga, aku mau ngajak kamu makan malam di rumahku. Kamu keberatan, nggak? Atau kamu nggak bisa hari ini karena belum minta izin sama Mama dan Papa? Kalau nggak bisa, lain kali aja nggak masalah, kok."

"Mau, Renjana." Dua kata itu lolos dengan begitu mulus dari mulut Kalingga. Tawaran itu terdengar lebih menarik ketimbang ia harus pulang ke rumahnya dan mendengar pertengkaran kedua orang tuanya serta semua makian yang dilayangkan untuknya.

"He-he, terima kasih, Kalingga."

Karena kegirangan, tanpa sadar Renjana memeluk erat tubuh tinggi tegap Kalingga. Kalingga dengan kesadaran penuh balik memeluk bahagia dan mengelus rambut halus Renjana.

Mereka berjalan beriringan di bawah payung Renjana. Meskipun hujan tidak sederas tadi, Kalingga tetap tipikal yang sangat sensitif serta rendah imun. Sebisa mungkin Renjana menjaga agar tidak ada setetes rinai pun yang jatuh mengenai Kalingga. Perjalanan menuju rumah Renjana cukup jauh. Karena mereka terus mengobrol penuh tawa, sepanjang jalan itu semua tak terasa. Setelah sampai di rumah Renjana, pintu dibuka.

"Kalingga, ya? Temannya Renjana?"

"Iya, Om," jawab Kalingga dengan kikuk.

"Oh ya. Silakan masuk, yang lain sudah menunggu di meja makan. Kami menunggu kedatangan kalian."

Kalingga memberikan isyarat kepada Renjana agar ia saja yang masuk duluan. Untung saja Renjana dengan cepat menangkap sinyal tersebut. Maka, Renjana masuk pertama kemudian disusul Kalingga.

"Kalingga, sini, Nak." Bunda Renjana menyambut Kalingga dengan penuh hangat dan riang, tak lupa dengan sebuah pelukan. Itu kebiasaan Bunda yang sulit dihilangkan. Untung saja Kalingga tidak keberatan meski sedikit terkejut.

Ayah dan bunda Renjana sibuk menata dan mengisi meja makan dengan beragam jenis masakan dan kue kering. Mereka tampak sibuk, kelihatan repot. Kalingga menjadi merasa bersalah.

"Ayo, Kalingga dihabiskan makanannya. Jangan sungkan, kami tidak merasa direpotkan." Bunda seakan bisa membaca muka Kalingga.

"Bunda dan Renjana sengaja memasak makanan kesukaannya Kalingga."

Kalingga menghentikan kegiatan mengunyahnya. Kemudian, berpikir, sebenarnya ini makan malam dalam rangka apa?

"Renjana banyak bercerita tentang kamu. Renjana bilang kamu berhasil mendapatkan nilai yang bagus di semester ini. Tidak ada satu pun nilai C. Jadi, Renjana berinisiatif mengadakan dinner kecil-kecilan ini," sahut ayah Renjana.

Kalingga kehilangan kata-kata. Ia menatap Renjana dengan mata yang berbinar. Mata mereka beradu, Renjana membalas tatapan itu dengan senyuman terbaiknya.

"Makasih, Om, Tante. Terima kasih banyak, Renjana."

"Terima kasih kembali, anak hebat," jawab mereka bertiga serempak.

Kalingga benar-benar tak pernah dirayakan seperti ini sebelumnya. Hatinya meletup bahagia. Ia merasa dicintai hari ini. Ia merasa pantas untuk berbahagia setidaknya untuk beberapa waktu. Makan malam hari itu terasa sempurna bagi Kalingga. Makan malam yang selama bertahun-tahun ia dambakan. Renjana membantu mewujudkan itu. Apa yang tak pernah ia dapat dan rasakan di keluarganya sendiri, kini dapat digapai dengan mudah, terlebih lagi dengan penuh cinta. Malam ini ditutup dengan garis senyum yang rasanya tidak akan menghilang dari wajah tegas Kalingga.

***

Saat itu, hujan deras Kalingga sedang mengejar Renjana. Tanpa sadar, ia menyandung batu yang cukup besar. Kalingga terjatuh dengan kepala yang mengenai batu. Renjana yang mendengar suara terjatuh itu langsung seketika membalikkan badannya dan melihat Kalingga sudah terjatuh dengan bercak darah di sekitar kepala. Renjana yang panik berteriak meminta tolong, barangkali ada orang baik yang mau menolong Kalingga. Akhirnya, ada seseorang yang menolong dengan membawa Kalingga ke rumah sakit terdekat. Renjana selalu menemani Kalingga hingga siuman.

Saat sudah siuman, Kalingga menelepon orang tuanya untuk mengabarkan bahwa ia masuk rumah sakit karena kepalanya terbentur batu. Orang tua Kalingga yang menerima kabar tersebut pun panik dan langsung menuju rumah sakit.

"Maaf, Sus. Mau tanya, kamar Anggrek nomor 15 sebelah mana, ya?" tanya ibu Kalingga yang sedang panik.

"Oh, lurus belok kanan, Bu, kamar yang sisi sebelah kanan," balas suster tersebut.

"Terima kasih ya, Sus," ucap ibu Kalingga.

"Sama-sama, Bu," balas suster.

"Ibu tenang dulu, Bu, Kalingga sepertinya sudah baik-baik saja, buktinya tadi dia masih bisa menelepon kita," ucap Tara yang mencoba menenangkan istrinya.

"Iya, Yah, tapi Ibu khawatir," balas istrinya.

"Ini, Bu, kamar nomer 15-nya," ucap Tara.

***

"Kamu kenapa bisa seperti ini, Ga? Ibu khawatir sekali," ujar sang ibu.

"Sudah, Bu, jangan menangis terus, Kalingga sudah pulih, kamu sudah sehat kan, Ga?" Suaminya selalu menenangkan istrinya itu sambil menanyakan kabar Kalingga yang terbaring di rumah sakit.

"Iya, Yah, Bu, Kalingga sudah tidak apa-apa, berkat Renjana yang sudah merawat dan menemani Kalingga sampai siuman," ucap Kalingga

"Terus, sekarang di mana temanmu itu yang tadi kausebutkan itu, Ga? Ibu dan Ayah tidak melihatnya sedari tadi," tanya ibunya yang kebingungan.

"Iya, di mana temanmu itu, Ga?" Tara yang juga menanyakan keberadaan Renjana.

"Loh, ini Renjana di sini, Yah, Bu, sedari tadi duduk di sampingku," balas Kalingga.

Tara dan istrinya kebingungan. "Oh, iya, Ayah dan Ibu keluar sebentar, ya, mungkin kalian butuh waktu untuk mengobrol," ucap Ibu. Ibunya langsung menarik suaminya keluar dari ruangan tersebut dengan sesegera mungkin.

"Yah, sepertinya ada yang salah dengan anak kita, bagaimana bisa ia bicara seperti itu, padahal memang tidak ada orang sama sekali selain kita bertiga di ruangan tersebut tadi?" tanya sang Ibu.

"Ayah juga merasa aneh, Bu, merasa ada yang aneh dengan anak kita, apakah karena kepalanya habis terbentur jadi bicaranya mengacau?" balas Tara.

"Ayoo, Yah, kita tanya langsung saja ke dokter yang menangani anak kita," ajak istrinya untuk menemui dokter.

"Ya, sudah. Ayo, Bu," balas Tara.

"Dok, kami ingin bertanya, sebenarnya ada apa dengan anak kami? Kenapa anak kami seolah membicarakan orang yang tidak ada? Apakah anak saya gila, Dok? Atau, karena pengaruh terbentur kepalanya?" Ibu Kalingga yang sedang bertanya ke dokter tersebut dengan raut wajah yang serius.

"Begini ya, Pak, Bu. Setelah kami periksa lebih lanjut, kami menemukan bahwa sebenarnya Kalingga mengidap skizofernia," ucap Dokter.

"Itu penyakit apa, Dok?"

"Skizofrenia sendiri merupakan gangguan mental yang terjadi dalam jangka panjang. Ketika menyerang seseorang, skizofrenia akan membuat pengidapnya mengalami delusi, halusinasi, kekacauan dalam berpikir, mengasingkan diri dari orang lain, hingga mengalami perubahan perilaku," balas Dokter.

Mendengar penjelasan dokter, suami-istri itu menangis. Mereka menyalahkan diri karena terlalu sibuk bekerja dan mengatur Kalingga sebagai anak. Mungkin, jika saja mereka lebih perhatian kepada Kalingga, memberikan kasih sayang sepenuhnya untuknya, anak itu tidak akan mengalami hal buruk seperti ini. Membuat dunia sendiri dalam imajinasinya, karena ingin mendapat kasih sayang dari seseorang.


Cerpen ini ditulis oleh:

1. Tiaramarcellinaputri

2. Misnati

3. Indah Arum Laraswati

4. Kavita

5. Aknes Wulandari

Posting Komentar untuk "[CERPEN] Just an Illusion - Karya Aknes Wulandari, dkk"