[CERPEN] Titik Ikhlas - Karya Farihah Albara, dkk

Sepatu pantofel hitam milik Fathur melayang, mengakhiri perdebatan menyebalkan di pagi hari. Pria yang usianya tak kurang dari 48 itu mengatur napasnya, ditenangkan sang istri dengan usapan di punggung. "Sabar, Mas."

"Gimana mau sabar? Anak itu makin lama makin ngelunjak!" keluh Fathur, intonasinya tak santai.

Afshin merutuk di sepanjang perjalanan. Setelah bersitegang dengan sang ayah, ia memutuskan untuk menenangkan diri dengan menyendiri di pojok kafe. Ini tahun pertamanya di perguruan tinggi, gadis 18 tahun itu berkeinginan besar menempuh jurusan Teknik Mesin, tetapi sang ayah menentang keras, bersikukuh memasukkannya ke jurusan yang benar-benar tidak ia inginkan—Tata Boga.

Alasannya klise, Fathur ingin sang putri menjadi pewaris perusahaan kulinernya.

Masih ada tiga puluh menit lagi sebelum kelas pertama dimulai. Ponsel bergetar, nama sahabatnya terpampang di layar. Meskipun Afshin selalu terlambat masuk kelas, Fatimah tetap berbaik hati menghubunginya tiga puluh menit sebelum kelas dimulai. Kali ini ia mengangkat panggilan dari Fatimah yang biasanya selalu diabaikan.

"Kamu masuk, 'kan, di kelas nanti? Udah ketinggalan banyak materi." Fatimah to the point.

Afshin menggerutu, menceritakan tentang perdebatannya dengan sang ayah tadi. Berkali-kali ia menyalahkan Fathur yang memaksanya masuk jurusan Tata Boga. Jauh dari passhion-nya.

"Pilihan orang tua pasti yang terbaik," Fatimah menasihati. Yang langsung diputus sambungannya oleh Afshin.

Ia sedang tidak ingin mendengar nasihat apa pun. Bagaimanapun, ia kesal dengan sikap sang ayah yang selalu menuntut dan tak pernah memberi haknya untuk bersuara. Bahkan, saat akan menikahi Hilya, Fathur tak meminta persetujuan apa-apa darinya.

Meski enggan, gadis semampai itu tetap mendatangi kampus. Bukan menuju gedung fakultasnya, ia menemui teman-teman lelakinya di kantin Fakultas Teknik. Tidak peduli jika terlambat, ia justru memesan makanan dan membantu mereka mengerjakan tugas.

"Ngapain ke kelas kalo telat? Mending bolos aja!" Farid memang tukang kompor handal, ia menyindir Afshin yang tak pernah serius kuliah.

"Niatnya gitu, tapi gue harus tetep hadir daripada dimutilasi sama Bokap," Afshin menjawab semaunya.

Keempat temannya ternganga. Mereka hanya bisa geleng-geleng melihat tingkah laku Afshin. Sudah berulang kali mereka menasihati dan mendukung Afshin supaya serius dengan kuliahnya, tapi tetap saja.

***

Afshin memasuki kelas dan langsung diserbu tatapan sinis oleh dosen serta beberapa teman seangkatannya. Sudah biasa, ia langsung mengambil posisi duduk di samping Fatimah. Baru lima menit, dosen menginterupsi, "Kelas hari ini saya cukupkan di sini. Terima kasih."

Fatimah langsung berdiri dan mengajak Afshin menuju masjid kampus, merayu sahabatnya melaksanakan salat Duha. Namun, Afshin menolak. "Gue tunggu di luar aja."

Gadis berkerudung itu menghela napas, bagaimanapun ia tidak bisa memaksa.

Sementara Fatimah salat, Afshin menunggu di teras, mengambil posisi bersandar di pilar. Beberapa menit berlalu dengan lamunan, ia memutuskan membasuh wajah di tempat wudu lantaran mengantuk. Namun, saat akan memutar keran, ia justru memegang tangan seseorang. Lelaki itu terlonjak, tampak jelas dari ekspresinya yang menegang.

"Ah, maaf. Gue gak sengaja," sesal Afshin.

Lelaki  itu mengangguk singkat. "Ini tempat wudhu laki-laki, kamu salah tempat." Ia mengulangi wudunya.

Afshin merutuki dirinya yang ceroboh. Perkataan lelaki itu membuatnya langsung meninggalkan tempat wudu dengan perasaan malu. Afshin berlari mendapati Fatimah tengah mencarinya. "Gue salah tempat, malu banget!"

Tanpa menunggu ditanya, Afshin menceritakan kejadian tadi sambil terus merutuki diri. Ucapannya terhenti saat melihat lelaki tadi memasuki masjid. Fatimah mengikuti pergerakan mata Afshin, pandangannya terkunci pada sosok pemuda dengan postur tubuh tinggi gagah. Ketampanannya standar, tapi auranya yang tenang memberi kesan plus tersendiri di mata kaum hawa.

"Ganteng juga, ya, adem." Afshin tertawa.

"Dia nggak pernah absen sholat Dhuha di sini," ujar Fatimah tiba-tiba.

"Lo kenal cowok tadi?" Bola mata Afshin melebar, tentu saja ia penasaran.

"Enggak, tapi kayanya dia kakak tingkat."

Afshin tidak dapat menyembunyikan rasa penasaran terhadap lelaki yang membuatnya malu sekaligus terpana dalam satu waktu. Dia bahkan terus menyosor Fatimah dengan pertanyaan-pertanyaan tidak bermutu.

"Mending setiap hari kamu temenin aku ke sini, sekalian ikut sholat. Siapa tau hatimu terketuk buat taubat."

Ucapan terakhir Fatimah berhasil membuat senyum girang Afshin seketika berubah menjadi lirikan tajam.

***

Afshin merasa lelah, seakan dia tidak memiliki hak untuk memilih jalan hidupnya. Apa yang dilakukan selalu berada di bawah tekanan sang ayah. Bahkan untuk urusan pribadi saja, Fathur selalu mengekang Afshin mengikuti aturannya.

Tidak ada hari tanpa pertengkaran. Tadi pagi, disertai ancaman, Fathur memintanya ke restoran sepulang kuliah untuk diajari bisnis. Bahkan penolakan Asfhin ditanggapi dengan amukan. Sementara ayahnya tahu, jika provesi yang sejak dulu dia harapkan bukanlah menjadi pengusaha kuliner, melainkan ingin memiliki beberapa cabang bengkel.

Gadis itu mengacak-acak rambutnya frustasi, berjalan gontai dengan pikiran kosong, menatap lurus ke depan. Detik kemudian, dalam benaknya terlintas untuk bunuh diri. Tanpa ragu, Afshin berjalan menuju jalan raya, tepat ketika sebuah mobil melintas.

"Lebih baik gue mati!" teriaknya, menutup mata. Lantaran tidak merasakan apa pun, ia mencoba membuka matanya secara perlahan.

"Mbak gila, ya? Kalau tadi Mbak ketabrak, saya juga yang salah!"

"Di dalem majikan saya syok, kalau kenapa-napa Mbak mau tanggung jawab?!"

  Rentetan omelan sang pengemudi membuat Afshin membeku. Hingga setelah beberapa saat, seorang pemuda akhirnya turun dari mobil, mengisyaratkan sang sopir agar kembali naik.

Afshin terkejut, dia ....

"Saya nggak tau masalahmu, tapi seberat apa pun, jangan pernah coba-coba melakukan bunuh diri. Itu dosa besar!"

Usai nasihat singkat itu, si pemuda kembali memasuki mobil. Sedangkan Afshin masih berdiri di tepi jalan, mencerna yang baru saja terjadi.

Merasa tidak memiliki arah, Afshin melanjutkan niatannya ke kampus. Seperti biasa, ia tidak langsung ke kelas. Tujuannya kali ini adalah kantin, berkumpul dengan teman-teman satu gengnya.

"Muka lo kusut gitu, Shin?" tanya Tejo.

Bukan menjawab, Afshin langsung mengambil minuman yang tersuguh di meja. Tanpa memedulikan siapa yang punya, ia menenggaknya begitu saja. Kejadian tadi membuat tenggorokannya terasa kering.

"Minum gue!" celetuk Galih, dibalas Afshin dengan tatapan malas. Lelaki itu bahkan mengomel tidak karuan.

"Lo kenapa, sih? Berantem lagi sama bokap lo?" tanya Asman, mengalihkan keributan.

Afshin mengedikkan bahu. Ia memang sering bercerita tentang problematika keluarganya pada mereka. Bagi Afshin, mereka seperti rumah yang selalu ada untuknya.

Di tengah obrolan, pandangan Afshin tertuju pada pemuda yang dijumpainya tadi. Ia berjalan seorang diri.

"Eh, lo mau ke mana?" tanya Farid, saat melihat Afshin berdiri.

"Kepo!" Dia mengikuti langkah laki-laki itu, kemudian berhenti di depan masjid kampus saat melihatnya masuk.

"Dia nggak pernah absen sholat Dhuha di sini." Ucapan Fatimah terngiang kembali. Tanpa sadar, ketaatannya mampu meluluhkan hati Afshin hingga melahirkan perasaan kagum.

Lantaran kejadian tadi, Afshin semakin dihantui rasa penasaran. Dia mulai sering mengamati pemuda itu. Hingga akhirnya mengetahui jika namanya adalah Farhan Alfi Fadhilah, ia merupakan kakak tingkatnya dari jurusan PAI.

***

Afshin mengembuskan napas lega begitu selesai berkutat dengan tugas kuliahnya. Sangat membosankan, berbanding terbalik dengan alat-alat mesin. Di saat semuanya berhamburan keluar kelas, ia masih setia di kursi. Otaknya sibuk memikirkan Farhan. Seakan ada magnet yang membuat wajah lelaki itu melekat kuat.

"Astaghfirullah, Afshinara Aurelia Zahra!" Fatimah geram, Afshin tak kunjung merespon panggilannya. Gadis itu baru tersadar setelah ia melambaikan tangan tepat di wajah.

"Nggak mau pulang?"

"Gawat!" Pekikan Afshin yang tiba-tiba membuat Fatimah terkejut. "Bokap gue nyuruh pulang cepet kemarin!" Tanpa meninggalkan sepatah kata pun, Afshin berlari keluar kelas.

"Fat, maaf, gue pulang duluan, ya!"

Hanya beberapa menit Afshin telah sampai di rumah, ia memarkirkan motor kesayangannya dan masuk tanpa salam. Sambutan Hilya bahkan sama sekali tak dihiarukan.

"Jangan lupa bersiap-siap, setelah itu temui kami di ruang tamu." Suara berat ayahnya juga tidak dia respon. Afshin melenggang begitu saja.

Usai membersihkan diri, Afshin turun ke ruang tamu dan terkejut melihat Farhan di sana. Wajah teduh itu sejenak mampu menenangkan hatinya.

"Duduk, Sayang." Ibu tiri Afshin menepuk kursi kosong di sisinya, tetapi gadis itu memilih tempat yang lain.

Fathur mengenalkan tamunya pada sang putri, menyebut jika ayah Farhan adalah sahabatnya sejak kuliah. Berita itu sama-sama membuat Afshin maupun Farhan terkejut. Terakhir mereka bertemu saat Afshin bayi dan Farhan masih berusia dua tahun. Hingga akhirnya, kini takdir mempertemukan mereka kembali.

"Nggak nyangka, Afshin yang dulu masih merah sekarang udah jadi gadis cantik." Alfi tersenyum melihat Afshin.

"Farhan juga kelihatan tampan dan berwibawa, persis kita waktu muda." Fathur terkekeh. Candaan itu membawa kedua keluarga terlibat dalam obrolan hangat.

"Gimana kalau kita jodohin anak kita, Fi?" ujar Fathur tiba-tiba.

Farhan terkesiap. Sementara Alfi dan Wanda saling pandang mendengar penuturan Fathur. Mengingat kondisi putranya, mereka hanya tersenyum.

Berbanding terbalik dengan Afshin, gadis itu seakan memiliki peluang besar untuk bersanding dengan Farhan.

***

Afshin masih mematut dirinya di depan cermin. Begitu tiba di kampus, dia memutuskan untuk langsung pergi ke toilet. Entah mengapa penampilannya kali ini harus benar-benar sempurna, dia tidak mau ada yang kurang.

"Ini penampilan gue aneh nggak, ya? Jangan sampe dia malah ilfeel liat gue yang sekarang." Gadis itu bergumam.

Sebuah pesan masuk ke ponselnya, membuat Afshin buru-buru mengecek notifikasi. Ternyata itu pesan dari Farhan. Sejak pertemuan dengan keluarga Farhan Minggu lalu, keduanya mulai dekat. Namun, sikap Farhan masih terlalu kaku membuat Afshin semakin penasaran. Kini, ia memutuskan untuk berubah.

"Oke, saatnya lo tarik perhatian dia.” Afshin menatap dirinya di depan cermin. Ia percaya jika penampilannya yang sekarang mampu meluluhkan hati Farhan.

Sementara itu, sudah nyaris 15 menit Farhan duduk sendiri di kantin. "Kalau lima menit lagi dia masih belum dateng, sebaiknya aku pulang," putus Farhan, melirik arlogi hitam yang melingkari lengan kurusnya.

Farhan beranjak dari kursinya setelah lima menit. Saat akan melangkah, sebuah salam terlontar menghentikan pergerakannya. Dia menatap perempuan itu tanpa berkedip. "Wa’alaikumussalam."

"Maaf, ya, aku terlambat."

Farhan hanya mengangguk. Ada yang berbeda dari Afshin, perempuan yang biasanya memakai jeans dan kaos oblong itu kini tampil anggun dengan balutan gamis dan kerudung segi empat menutup dada.

"Kamu beneran Afshin?" tanya Farhan, memastikan bahwa penglihatannya normal.

"Iya, aku Afshin." Afshin tersenyum.

"Tapi penampilan kamu ...."

"Kenapa? Aneh, ya? Apa aku nggak cocok berpenampilan kayak gini?"

Farhan menggeleng. "Nggak, bukan gitu, tapi beda aja. Kenapa penampilan kamu tiba-tiba berubah?"

Afshin mengajak Farhan untuk kembali duduk.

"Sebenernya ini ngak tiba-tiba. Aku merenung, kayaknya hidupku selama ini jauh dari kata baik. Kakak pernah bilang hidup itu perjalanan, aku sadar terlalu jauh tersesat, nggak punya arah. Aku ngerasa perlu bertaubat dan mendekat sama Allah."

Farhan terpaku. Tidak menyangka jika gadis tomboi yang ada di hadapannya berubah dalam waktu seminggu. Dia berharap niat Afshin benar-benar lillah. Tanpa sadar, senyuman tipis tersungging di bibirnya.

***

Farhan duduk bersandar di headboard, membuka-buka album foto keluarga dengan posisi berselonjor. Sesekali sudut bibirnya terangkat melihat betapa bahagia kedua orang tuanya dahulu. Tidak seperti sekarang, tampak lelah dan banyak pikiran.

Fokusnya pudar begitu mendapati darah menetes mengenai wajah kedua orang tuanya dalam foto. Spontan, tangannya menyapu hidung yang terasa basah. Pusing yang sejak tadi mendera seakan kian menyiksa.

"Mimisan lagi." Gumamnya, berusaha tenang. Beringsut mengambil tisu di atas nakas dan berupaya menghentikan darah yang keluar tanpa meminta bantuan.

Sudah beberapa hari ini Farhan merasa kondisinya melemah. Kelelahan ekstrem, pusing, hingga nyeri tulang dan sendi membuatnya sulit untuk menjalani kegiatan sehari-hari. Bahkan, hari ini dia merasakan napasnya terengah-engah. Sedikit merutuki diri lantaran memaksakan mengikuti kegiatan kuliah tatap muka saat jeda kemoterapi.

Di tengah paniknya menyeka darah yang terus keluar dalam jumlah banyak, Farhan terngiang tentang perbincangan kedua orang tuanya tiga tahun silam.

"Udah, Ma, ..., dokter juga bilang kalau leukemia Farhan masih bisa diatasi, 'kan?" Alfi berusaha menenangkan.

"Orang tua mana yang sanggup melihat anaknya menderita? Nyatanya perjalanan untuk sembuh nggak semudah itu, Farhan anak kita satu-satunya! Mama nggak siap kalau terjadi apa-apa."

Farhan tergeming, matanya berkaca-kaca. Masih teringat jelas bagaimana tangisan sang mama dan kekhawatiran di matanya. Seperempat jam dia mencoba menghentikan mimisan. Namun, darah yang sama sekali tidak mereda membuatnya bimbang. Ini tidak lazim! Kelemahan bahkan mengambil alih.

Di dapur, Wanda sibuk menyiapkan makan siang untuk dibawa ke kamar putranya. Pemandangan pertama yang dia lihat adalah Farhan yang terbaring di kasur dengan posisi miring. Kepanikan merayapi begitu Wanda melihat tisu-tisu penuh darah yang terkumpul di atas nakas, sementara darah masih mengalir dari hidung Farhan dan menodai seprai putihnya.

"Farhan ..., kamu mimisan? Kenapa banyak sekali?" Wanda mencoba membangunkan putranya dengan penuh rasa cemas. Tangisnya luruh menyadari Farhan pingsan. Segera diraihnya ponsel di atas nakas dan menghubungi ambulans.

***

"Mimisan Farhan yang tidak kunjung berhenti diakibatkan oleh trombositopenia, di mana jumlah trombosit menurun secara signifikan. Kemampuan darah untuk membeku terganggu."

"Setelah melakukan serangkaian tes dan pemeriksaan, hasil mengindikasikan bahwa Leukemia Limfoblastik Akut yang Farhan derita telah mencapai stadium tinggi risiko," dokter menjeda ucapannya, "ini berarti, pengobatan konvensional yang kami berikan selama ini tidak lagi cukup untuk mengendalikan perkembangan penyakitnya. Terapi lebih intensif mungkin diperlukan untuk menanggulangi."

"Ini nggak masuk akal. Kami sudah melakukan pengobatan sesuai anjuran, kemoterapi intensif juga sudah dijalankan. Kenapa kondisi Farhan semakin buruk?!" cecar Alfi.

"Kami semua berharap pengobatan berjalan dengan lancar. Namun, LLA dapat bermanifestasi dengan cara yang berbeda pada setiap individu. Ini bisa disebabkan oleh beberapa faktor. Termasuk terjadinya mutasi genetik, perkembangan penyakit, toleransi obat, ataupun gaya hidup."

Alfi terdiam. Dokter melakukan wawancara mengenai aktivitas Farhan dan pola makannya, menjelaskan rencana pengobatan yang akan dilakukan beserta efek sampingnya secara terperinci. Mulai hari itu, Farhan melanjutkan perjuangannya di rumah sakit.

***

Afshin duduk di teras masjid, pikirannya tertuju pada Farhan. Sudah beberapa minggu lelaki itu hilang bak ditelan bumi.

"Kamu Afshin, 'kan?" Seorang lelaki menghampirinya.

Afshin mengangguk. "Siapa, ya?"

"Aku Rafi, sahabatnya Farhan."

"Sahabatnya Kak Farhan? Berarti kamu tau, kenapa Kak Farhan lama gak berangkat?"

Rafi mengangguk dalam kebisuan. "Kebetulan sekarang aku mau nemuin dia."

Rafi mengajak Afshin untuk ikut. Gadis itu langsung setuju, ia sangat penasaran dengan keberadaan Farhan saat ini.

Di sepanjang perjalanan, perasaan Afshin tidak tenang. Pikirannya terus berkecamuk, menerka-nerka tentang apa yang sebenarnya terjadi. Hingga mereka tiba di sebuah rumah sakit dan melihat kedua orang tua Farhan tengah duduk di depan ruang rawat. Wajahnya penuh kesedihan.

"Om, Tante, kenapa di sini? Kak Farhan?" Afshin tidak dapat lagi menyembunyikan kekhawatirannya.

Wanda berdiri, mengisyaratkan Afshin agar mendekat.

"Farhan sedang berjuang di dalam sana. Kanker darah telah merenggut separuh harapan hidupnya, sekarang kondisi Farhan sedang drop dan dia nggak bisa ditemui." Ia berusaha menjelaskan kondisi Farhan setenang mungkin. Padahal hatinya tidak sanggup melihat putranya terbaring tak berdaya. Jika bisa, dia ingin menanggung semua rasa sakit yang selama ini Farhan derita.

Afshin terkejut mendengar penuturan Wanda. Air matanya mengalir begitu saja, dadanya sesak mendengar kenyataan pahit ini. Hatinya sakit menyaksikan Farhan yang tengah berjuang antara hidup dan mati. Seketika itu, perkataan Farhan beberapa minggu lalu kembali terlintas di kepalanya.

"Semoga tujuan hijrahmu bukan semata-mata karena manusia, tapi karena Allah. Karena manusia tidak ada yang abadi. Kalau kamu hijrah karena manusia, kamu akan kehilangan alasan ketika manusia itu pergi. Jadi, berhijrahlah karena Allah agar kamu tidak mempunyai alasan untuk berhenti."

***

Wanda menatap sendu putranya yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit, jauh dari Farhan yang biasanya ceria dan penuh semangat. Sudah empat minggu, perawatan intensif yang diberikan tak kunjung membuahkan hasil baik.

Sebagai ibu, hati Wanda teriris melihat putranya terus-terusan tersiksa oleh penyakit. Tubuhnya semakin kurus, tatapan yang dulu penuh semangat kini sayu. Napasnya sukar meski dibantu oksigen. Jelas bahwa Farhan tengah menahan sakit yang teramat.

"Sel-sel kanker telah menyebar dengan cepat dan cukup luas dalam tubuh Farhan. Meskipun kami telah melakukan berbagai upaya, respons tubuhnya terhadap pengobatan kuratif sangat terbatas," jelas dokter sore itu.

"Apa tidak ada alternatif lain untuk kesembuhan Farhan, Dok?" tanya Alfi, nyaris tak bersuara. Sementara Wanda menggigit bibir menahan tangisnya.

"Maaf, kami telah mencoba melakukan yang terbaik, tapi penyakit ini telah mempengaruhi tulang sumsum dan organ vitalnya, tubuhnya menjadi resisten terhadap pengobatan yang diberikan." Dokter menghela napas. "Kami menyarankan agar beralih ke perawatan paliatif yang bertujuan untuk menjaga kenyamanannya. Doa adalah ikhtiar terbaik yang bisa kita lakukan saat ini."

Tak henti-hentinya Wanda menangis, menggenggam erat tangan dingin putra semata wayang, berharap bahwa akan ada keajaiban yang datang. Sementara Alfi diam, menatap pemandangan itu dengan kepiluan.

Tarikan napas Farhan yang penuh perjuangan membuat Alfi maupun Wanda seketika panik. Tatapannya kosong menghadap langit-langit rumah sakit, buliran bening mengalir dari sudut matanya. Urat lehernya menegang.

Menyadari putranya sedang menghadapi sakaratulmaut, Alfi mengurungkan niatnya memanggil dokter.

"Asyhadu allaa ilaaha illallah ... wa asyhadu anna Muhammadan rasulullah ...."

Wanda terisak keras, sementara Alfi tak mampu lagi menahan tangis. Tepat setelah menyelesaikan syahadatnya dengan tersendat, mata yang selalu memancarkan keteduhan itu tertutup rapat.

Kabar kepergian Farhan menyebar pesat. Rafi yang saat itu masih di kampus langsung bergegas menuju rumah sakit dengan tangisnya, berlari mengabaikan tatapan-tatapan heran yang dilayangkan padanya sepanjang koridor.

Sepanjang langkah, ingatannya mengelana pada jawaban Farhan saat ditanyai olehnya tentang wanita idaman di masa depan. Farhan menjawab dengan tenang, "Afshin. Tapi aku nggak tau, pernikahan atau justru kematian yang lebih dulu aku hadapi."

Kata-kata itu membuat Rafi tertohok. Farhan tersenyum, senyuman tulus yang bahkan tidak mampu Rafi tunjukkan saat itu.

"Makasih banyak, ya, Fi, udah jadi sahabat terbaik selama ini. Kalau misal nanti ... ajal yang lebih dulu jemput aku, tolong yakinkan Mama sama Papa supaya mereka ikhlas."

"Lo ngomong apa, sih? Gue yakin lo pasti sembuh, kok!" marah Rafi.

Farhan tersenyum lagi. "Bukannya pesimis, tapi ajal nggak ada yang tau, 'kan?"

***

Di sisi lain, Afshin masih membeku mendengar kabar kematian Farhan—lelaki yang dicintainya dalam diam. Tatapannya kosong memandang rumah sakit Dharmais, rumah sakit khusus kanker tempat Farhan dirawat empat minggu ini.

Sebelumnya, ia memang berniat menjenguk Farhan bersama sang ayah. Namun, di perjalanan mereka dikejutkan dengan kabar duka. Entah kenapa rasa sesak itu mengingatkannya pada kepergian sang bunda dua tahun lalu. Sakit. Pedih yang menyeruak membuat gadis itu tak mampu berekspresi selain dengan tangis.

Terlebih saat Afshin melihat sendiri jasad Farhan yang sebagian dibalut kain putih. Kurus, wajah pucatnya terpejam tenang, rambut yang dulu lebat kini habis. Menyiratkan bagaimana kerasnya perjuangan Farhan melawan penyakit.

Seketika Afshin menyadari kekhilafannya, ia telah salah dalam memulai niat berhijrah. Tujuannya selama ini bukan untuk Allah, melainkan demi meluluhkan hati salah satu makhluk-Nya. Sekarang, mahkluk itu bahkan sudah kembali ke pangkuan-Nya.

Kepergian Farhan mendorong Afshin untuk benar-benar berubah, berbenah menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. Ditemani Fatimah, Afshin bertekad untuk istiqamah dengan kerudungnya, mematuhi perintah orang tua, serta berusaha menjadi mahasiswi berprestasi di kampus.

Farhan membuatnya sadar, bahwa masa depan sesungguhnya adalah ‘kematian’.

"Segala sesuatu yang dilakukan tidak karena Allah maka akan berbuah kecewa." Fatimah memeluk Afshin. "Ikhlaskan, perbaiki niat. InsyaAllah masih ada Farhan-Farhan lain di luar sana."

 

Cerpen ini ditulis oleh:

1. Farihah Albara

2. Aisyah Nur Zaidah

3. Nazella Tsabitah Azzahra

4. Iis Sumiati


Posting Komentar untuk "[CERPEN] Titik Ikhlas - Karya Farihah Albara, dkk"