New Year’s Eve - Karya Davina Eliza Ramdani


DRRT...

DRRT...

DRRT...

Safira membuka pintu kamarnya. Ponsel di atas mejanya berdering terus-terusan. Membuat kebingungan siapa yang jam lima sore menelponnya. Didekatinya ponsel itu, menampilkan profil chat Nadine. 

“Halo, Nadine.” Safira berbicara dulu. 

“Assalamualaikum, Fir.” Suara Nadine keluar lewat ponsel Safira.

“Waalaikumsalam. Gimana jalan-jalan kalian nanti malam? Pasti romantis banget,” ucap Safira penuh tanda tanya. Malam ini mereka akan bermalam madu di festival tahun baru. Merayakan tahun baru bersama jodohnya masing-masing. Indahnya pasangan halal. Bukan seperti Safira yang meratapi jabatan single-nya. 

Nadine tertawa begitu Safira yang jomblo ini mengungkit acara spesial baginya. “Begini, Fir. Kamu kan jomblo. Nah, awalnya tiket berempat itu buat kakaknya Zergan sama suaminya. Tapi, kakaknya ini tiba-tiba ngedrop. Kata suaminya dia terlalu diet keras. Sekarang lagi dirawat, tenang aja.”

Safira mendengarkan dengan seksama. Lantas bingung. “Terus kenapa kamu telpon aku? Aku kan gak punya pasangan.” 

“Makanya aku nelpon kamu, Fir. Karena ada dua tiket kosong, aku ajak kamu.” Kalimatnya jelas mengajak sahabatnya ke tempat terang berkelap-kelip. Safira membuncah perasaan gembiranya malam ini. Kesempatan inilah yang harus dilengkapi, pikirnya. 

Safira belum selesai dengan teleponnya. Dia kembali bertanya, “Loh, aku nanti jadi nyamuk, dong?” 

“Maksudnya?” 

“Kan aku single.” 

Tawa membahana Nadine saat Safira menjelaskan kehadirannya. “Gak usah takut.” 

“Kenapa takut?” Safira terheran-heran. Kenapa takut menjadi jomblo? Itu kan profesi semua remaja. Tidak seluruhnya, sih. 

Nadine berkata lagi, yang demikian membuat Safira merinding. “Nanti ada cowok yang dipilihin Zergan, kok.” 

Sepuluh detik hening merutuki arwah Safira. 

Perempuan ini justru bingung apa yang mau dijawabnya. 

“Safir? Fira?” Nadine mengabsen sahabatnya. 

“Iya?” Safira menjawab, dengan mata kosong. Kemudian saat itulah Safira berteriak keras sesuai isi jantungnya. Nadine segera menjauhkan ponselnya. Gendang telinga alih-alih bocor kalau dia dekat dengan teriakan dahsyat Safira. 

“Apaan sih kamu teriak begitu abis bengong?! Kaget, tahu!” Nadine mengkritik habis-habisan Safira. 

Safira bergegas mengatakan lagi. “Berarti aku sama laki-laki itu... dong...” Suaranya lagi lagi hampa. 

“Iya, kenapa?” Nadine kembali lagi setelah menyalami suaminya, Zergan. “Kamu mau dicocokin apa jomblo terus?” 

“Mau, sih... Tapi, kalau gak nyambung gimana?” Safira mengecoh Nadine. 

Nadine menjawabnya lagi, “Tenang aja, ini temannya Zergan. Bukan aneh-aneh. Dia juga nyari jodoh. Spesial buat kamu.” 

Perempuan bernama Safira tadi melihat alarm ponselnya berdering. Tandanya untuk mandi sore. 

“Yaudah, aku mau mandi dulu. Assalamualaikum,” tutup Safira.

Nadine menjawab salamnya, lalu panggilan itu usai. Safira memandang kalender kecilnya. 

31 Desember, hari yang membuat dirinya bingung harus bahagia atau tidak. 

...

Malam yang dijanjikan Nadine dan Zergan telah datang. Safira masuk ke dalam mobil mereka di belakang. Jantungnya seakan menyemangati takdir cintanya. 

Zergan dan Nadine terkikik geli saat Safira terlihat gugup walaupun wajahnya tersampul senyum. 

“Gak usah gugup, Fir.” Zergan mengemudikan mobilnya menuju tujuan mereka bertiga. “Orangnya baik, kok. Saya tahu banget.” 

“Iya...” kian suara Safira yang lemas. Apa dia bisa akrab dengan lelaki ini? Bagaimana sifat lelaki yang demikian Zergan katakan baik? Apakah bisa melewati restu orangtua? Dengan pertemuan pertama kalinya?

Ckiit... 

Mobil milik Zergan telah sampai di Festival Tahun Baru 2023. Tempat yang digunakan untuk jalur kendaraan berubah secantik rupa membangun tenda-tenda. Dari kelengkapan aksesoris rumah tangga, permainan menyenangkan, kereta hantu, bahkan jajanan kaki lima yang memikat. 

Safira mengembus napasnya yang terakhir sebelum membuka pintu mobil. Mengecek apakah kuotanya masih aman, pakaiannya yang berwarna biru malam rapi, jangan lupa dengan wajahnya. 

Siap.

Safira berbalik menghadapi Nadine dan Zergan. Di belakang mereka ada lelaki setinggi Zergan, perawakannya seperti orang Arab. Namun selaras warna kulitnya dengan mutiara di bawah lautan.  Sweater abu-abu bercelanakan jeans, kesan yang sangat indah menyambut tahun baru ini.

“Assalamualaikum.” Safira mengirimkan senyumnya lewat kedua tangannya yang tertempel.

Suara lelaki itu keluar, “Waalaikumsalam.” 

“Safira, ini Maulana Zafran Al Javier. Pemuda lulusan Universitas Al-Azhar Kairo.” Zergan menjelaskan namanya. “Panggilnya Zafran.”

“Jangan ngomongin lulusan, dong,” bisik Zafran menyenggol Zergan. Zergan melanjutkan lagi memperkenalkan Safira.

“Nah, Zafran. Ini Naqeebah Putri Safira.” 

“Ma sya Allah, ismuka jamilah.” Zafran memujinya. 

Nadine menarik tangan Zergan sambil melambai kepada mereka berdua. “Aku sama Zergan mau ke tempat yang lain, ya. Kalian senang-senang aja!” 

Safira memegang lengannya. Terlalu canggung untuk merayakan bersama orang yang baru dikenal. Mungkin itu juga yang dipikirkan Zafran. 

Zafran membawa boneka beruang kecil seukuran tangannya. “Aku juga tahu kamu gak bakal bersentuhan sampai kita udah mahram. Makanya biar lebih seru, kamu pegang tangan kirinya ico.”

“Namanya lucu, ico.” Safira memegang tangan kiri beruang kecilnya. Entah bagaimana bisa laki-laki ini mengerti hal yang bahkan di depan mereka saja sudah ada yang berpacaran tanpa nikah. 

Kali ini Safira bisa berbahagia, kian tidak lagi berhubungan dengan yang bukan miliknya. Mereka mendatangi tenda berisi jajanan manis dan pedas. Juga mencicipi minuman berasap. 

“Pakai duit aku dulu. Kamu bawanya duit gede, sih.” Safira menukarkan uang dengan minumannya. Dan herannya yang harus mereka minum adalah dua sedotan. Dua sedotan berbentuk hati yang menekuk ke bawah, sedihnya mereka harus minum di bawah minumannya itu. Sedotan itu terbagi menjadi dua aliran bermotif hati.

Penjualnya berucap demikian, “Maaf, kak. Opsional sedotannya gak ada lagi. Sisanya sedotan ini.” 

Zafran meraih minuman bervarian vanilla itu. “Aku dulu mau minum.” 

Tidak ada air yang naik ke atas. Safira yang menontonpun juga heran. “Coba dong aku.” 

Hal yang sama juga terjadi pada perempuan berhijab pashmina. Bingung. 

Safira mencetuskan konsep otaknya, “Apa iya kita harus minum bareng?” Zafran menoleh kaget. “Kan harus tertutup biar airnya bisa masuk.” 

Zafran menganggap itu logis. “Ayo coba.” 

Safira bernapas dulu sebelum mencicipi lagi. Kali ini berbarengan dengan Zafran, lelaki yang di hadapannya. Jantungnya senam berdetak. Mendukung reka adegan ini. 

Mereka telah siap menghisap bersama-sama. Dan itu berhasil, minuman dengan ide pikir Safira merebak ke kerongkongan masing-masing. Melegakan kekeringan malam akhir tahun.

“Alhamdulillah...” bisik Safira. “Sekarang kita mau ngapain lagi?” 

Zafran berdiri dari perempuan di depannya. “Pegang boneka ico, aku pegang minumannya.” 

Safira meng iya-iya. Mereka lanjut lagi berkelana mencari keseruan. Di tengah-tengah itu Safira menunjuk mesin capit besar yang tentunya tak kalah ramai. Hadiah paling besar, boneka beruang gembul. Itulah daya tarik utama para antrian. 

“Kamu di sini dulu. Aku beli koin.” Zafran menempatkan Safira di bagian antrian. Dia langsung terobos ke loket koin dan datang tiga menit kemudian, tepat ketika tinggal satu orang lagi yang akan bermain. 

“Orang-orang sedari tadi terus-terusan ambil boneka beruang. Tapi, gak kuat. Copot mulu,” papar Safira padanya. Membuat Zafran berpikir dua kali untuk itu. 

Zafran memasuki antrian di samping Safira. “Coba kita yang lain aja ya, bonekanya.” Dia berdalih. Safira mengangguk. Ini juga bukan dia paksa. Memang taktiknya begini. 

Saat mesin capit itu bergerak, Zafran mengambil panda seukuran ico. Safira mengamati pergerakan mesin pencapit itu.  Boneka hitam-putih itu berhasil diangkat. Namun, saat mengangkat mesin itu melepaskannya lagi. Sehingga membuat boneka beruang gembul tergeser dan jatuh masuk ke kotak ambil.

Zafran dan Safira sama-sama merasa aneh. Mereka tidak berharap boneka beruang yang akan jatuh. Bahkan orang di belakang mereka juga berbisik mustahil. 

Zafran mengambil benda besar itu, masih susah mempercayai takdirnya. Meremas bulu-bulunya. 

“Kan kita maunya yang panda...” celetuk Safira. “Masih ada empat koin lagi,” tuturnya. 

Lelaki dengan khas wajah arab itu langsung memeluk beruang besar. “Kasih aja kali ke anak kecil di belakang kamu.”

Bruk! 

Beruang yang dikendalikan Zafran memeluk punggung Safira. Safira menutup mulutnya, padahal menutup mulut tidak membuat perasaan salah tingkahnya tertutupi. Angin yang berhembus seakan berhawa panas. 

“Maaf, ya. Kita gak bisa pelukan dulu. Semoga pelukan ini bisa ngertiin kamu. Nanti kalau waktu boleh izinin kita, Zafran bakal peluk, kok.”  Zafran membenamkan wajahnya ke belakang kepala beruang. Seiring lima detik terlewat, Zafran melepaskan pelukannya. Menjauhkan Safira yang mematung dua puluh detik. 

Lelaki yang menjadi pelaku itu tersenyum, memegang boneka ico lagi. “Ayo, Safira. Kita masih harus ke lapangan.” 

Safira menatap lengan ico. “ Ayo!” 

***

Satu jam terasa cepat untuk mereka yang baru kenal di tahun baru. Safira mendekati mobil setelah berpamitan, masih memeluk penuh sayang boneka besar hasil kegabutan mereka. Zafran menaruh ico di depan motornya. 

“Safira,” panggil Zafran. Safira sang pemilik nama menolehkan wajahnya. 

“Qolbi laa yaro illaa habiiban lahu.” Zafran menunjuk dadanya dengan jari telunjuknya. 

Karena itu bahasa arab, dan Safira menggunakan bahasa arab hanya untuk ibadah, perasaannya tercengang. “Hah?” 

Tertawa. Zafran menyalakan mesinnya, melambai angin kosong. “Gak jadi.” Dasar, untung gak ngerti bahasa arab. Begitulah kritik di dalam batinnya. “Dadah.” 

Safira memandang aneh Zafran yang sudah keluar dari parkiran festival. “Cowok kenapa suka begitu, deh? Heran,” tukas Safira sewaktu raganya memasuki mobil pasangan Nadine Zergan. 

Semoga hati ini tidak melirik selain kepada kekasihnya. Gumam Safira selama perjalanan pulang. 


TENTANG PENULIS

New Year’s Eve, salah satu karya dari Davina Eliza, remaja yang lahir bulan September 2007. Kesukaannya membaca novel, misalnya Omniscient Viewpoint Reader dan Harry Potter. Pernah memenangkan juara 3 lomba cerpen yang diadakan penerbit buku Indie. Kalian bisa berkenalan lewat @finasdfghjkl dalam Instagram. 


1 komentar untuk "New Year’s Eve - Karya Davina Eliza Ramdani"