[CERPEN] Just an Illusion - Bab 1: Kabar Buruk

“Kamu mau beragkat jam berapa?” tanya Rama dari telepon yang terhubung di handphone Kalingga.

“Jam 8 aja, deh. Udah nggak ada pelajaran lagi, bebas. Paling nanti gabut doang di kelas,” jawab Kalingga.

“Denger-denger nanti ada acara gladi bersih buat acara kelulusan, Ga. Mulainya mungkin agak siangan. Ya udah, jam 8 aja. Nanti langsung ketemuan di kelas, ya.”

“Oke, Ma,” ucap Kalingga mengakhiri percakapan di telepon.

Kalingga menaruh handphone-nya di meja. Kemudian, mencoba meregangkan badannya, mengumpulkan niat dan tenaga untuk beranjak dari kasur yang empuk itu. Jam masih menunjukkan pukul 6 pagi. Mata Kalingga belum sepenuhnya terbuka. Dia langsung menuju kamar mandi untuk mencuci muka dan sikat gigi.

Sementara di ruang makan sudah ada kedua orang tua Kalingga yang menunggu untuk makan bersama. Ayah Kalingga seperti tergesa-gesa karena ingin segera berangkat ke kantor. Dia berjalan ke lantai atas menuju ke kamar Kalingga untuk mengajaknya makan bersama.

“Kalingga, cepat sini makan,” panggil Pak Tara (ayah Kalingga) dari luar kamar Kalingga.

“Iya, Yah!” jawab Kalingga dari dalam kamar. Pak Tara kemudian melangkah turun ke lantai bawah setelah mendengar jawaban dari Kalingga.

Kalingga yang sudah keluar dari kamar mandi yang ada di dalam kamarnya pun langsung keluar dan berjalan turun ke lantai bawah untuk ke meja makan karena mendengar panggilan dari ayahnya.

“Ayo sarapan, Nak,” ajak Bu Rengganis (ibu Kalingga) sambil mengambilkan nasi dan lauk untuk Kalingga makan. Kalingga mengambil tempat duduk dan segera memakan makanan yang sudah disiapkan. Baru menyantap suapan pertama, ayah Kalingga berkata, “Nanti setelah Ayah pulang dari kantor, ada yang Ayah mau bicarakan ke kamu.”

“Tentang apa, Yah?” tanya Kalingga. “Nanti kamu juga tau sendiri,” jawab Pak Tara, “Ayah berangkat ke kantor dulu ya, Ga, Bu,” sambungnya. Pak Tara memberikan tangan kanannya kepada Kalingga. Dia langsung mencium tangan ayahnya itu. Begitu juga ke Bu Rengganis.

Saat Bu Rengganis selesai mencium tangan Pak Tara, Kalingga berkata, “Kenapa enggak sekarang aja, Yah? Masih jam 6 pagi.”

Pak Tara menghela napas pendek. “Nanti kita bicarakan, Nak. Perjalanan dari rumah ke kantor Ayah cukup jauh. Ayah nanti ada meeting. Jadi, harus berangkat lebih pagi. Ayah mau berangkat ke kantor dulu, ya. Assalamualaikum.”

“Iya, Yah. Hati-hati di jalan,” ucap Bu Rengganis kepada Pak Tara yang langsung pergi meninggalkan ruang makan. “Makasih, Bu.”

***

“Udah datang dari tadi, Ga?” tanya Rama yang baru saja masuk ke ruang kelas dan berjalan menghampiri Kalingga. Rama adalah teman Kalingga yang paling setia. Dari kelas X, mereka sudah berteman dekat. Satu angkatan kelasnya, Rama paling tau tentang Kalingga. Begitu juga sebaliknya.

“Belum lama, Ma. Masih sepi juga kelasnya,” ucap Kalingga sambil melihat sekeliling. Bisa dibilang, Kalingga ini menjadi murid yang paling terkenal di kelasnya karena berasal dari keluarga kaya. Namun, Kalingga tetap berperilaku apa adanya, menyesuaikan dengan teman dekatnya, Rama, yang berasal dari keluarga sederhana.

Rama kemudian duduk di samping Kalingga dan menaruh tas yang hanya berisikan handphone, satu buku tulis, dan bolpoin.

"Kita bentar lagi mau lulus, Ga. Waktu berlalu cepet banget, ya? Kita udah 3 tahun kenal dan melalui keseruan SMA bareng-bareng," ucap Rama memulai topik pembicaraan.

Kalingga yang sedang bermain handphone langsung mengangguk setuju, "Iya, bener banget, Ma. Tapi aku yakin masa depan kita bakal lebih seru. Udah kepikiran mau ngapain setelah lulus?" Kali ini, Kalingga mulai menatap ke arah wajah Rama.

Mereka mulai membayangan masa depan. "Aku ngebayangin mau kuliah di bidang seni. Pengen ngembangin bakat melukisku dan mungkin bikin pameran seni sendiri suatu hari nanti," jelas Rama.

Kalingga tersenyum, "Itu keren, Ma! Aku yakin karya-karyamu pasti bagus-bagus. Aku sendiri mikirnya mau coba bisnis. Tapi bukan kuliah, melainkan langsung terjun di dunia kerja. Mulai kerja dari nol. Aku pengen suatu hari nanti bisa bikin lapangan kerja sendiri." Kalingga memang dari keluarga yang kaya raya, tetapi dia tidak mau terus-terusan bergantung dengan keluarganya. Kalingga berniat untuk mandiri.

"Mantap, Ga! Kita masih bisa saling dukung satu sama lain nanti, kan?" Rama berkata sambil menepuk bahu Kalingga.

Kalingga tersenyum dan mengangguk setuju, "Iya, pastinya. Kita nanti akan jarang sekali bertemu. Bahkan akan menjadi asing."

"Bener, kita mungkin akan jarang bertemu. Tapi kita masih bisa berkomunikasi lewat handphone, kok,” ucap Rama.

Selama ini, Rama satu-satunya teman yang selalu baik kepada Kalingga. Dari SD, Kalingga kurang beruntung dalam hal pertemanan. Ditambah dengan orang tua Kalingga yang selalu sibuk. Oleh karena itu, Kalingga selalu merasa kesepian dan depresi. Kalingga sempat memeriksakan diri ke psikiater tanpa sepengetahuan orang tuanya. Sampai sekarang, sesekali Kalingga masih mengonsumsi obat penenang.

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Diberitahukan untuk seluruh murid kelas 12 untuk segera menuju ke GOR. Gladi bersih untuk acara kelulusan akan segera dimulai. Sekian. Terima kasih.” Suara pengumuman gladi bersih untuk acara kelulusan sudah diberitahukan lewat pengeras suara dalam kelas. Kalingga, Rama, dan murid lainnya yang ada di dalam kelas segera menuju ke GOR untuk hadir dalam latihan tersebut.

***

Matahari sangat panas siang ini. Setelah selesai mengikuti glasi bersih untuk acara kelulusan, para murid diperbolehkan untuk pulang. Namun, Kalingga kali ini tidak ingin langsung pulang ke rumah. Terkadang dia akan menghabiskan waktu dulu ke kafe untuk menikmati secangkir kopi. Kalingga sangat suka sekali dengan kopi. Dengan motor kesayangannya, dia langsung menuju ke kafe yang menjadi tempat favoritnya itu.

Setelah memasuki pintu masuk kafe, Kalingga bisa mencium aroma kopi kesukaannya yang khas dan nikmat. Tak hanya menyukai aroma dan rasa kopi. Kalingga juga menyukai pekerjaan menjadi barista. Terkadang, saat menikmati waktu sendiri di rumah, diam-diam Kalingga belajar meracik kopi untuk dia nikmati sendiri.

Suasana di kafe itu membuat Kalingga merasa tenang. Seperti biasa, dia memilih tempat duduk di pojok dekat jendela. Kemudian, dia mulai memesan kopi kesukaannya. Tak lupa dengan buku bacaannya. Buku adalah barang wajib yang Kalingga harus bawa jika pergi ke kafe langganannya. Di kafe itu dia merasa nyaman. Berbeda dengan suasana rumahnya yang sepi tanpa kehangatan.

Setelah resmi lulus nanti, Kalingga berencana ingin mencoba memulai awal karirnya dengan bekerja menjadi seorang barista. Kalingga belum bisa memastikan akan disetujui oleh ayahnya atau tidak. Namun, dengan keberanian yang ekstra, dia akan mencoba memberitahukan niat itu ke ayahnya.

“Permisi, Mas. Pesanan kopinya sudah jadi. Selamat menikmati,” ucap pelayan kafe yang ramah melayani Kalingga dengan penuh senyuman. Selain Rama, Kalingga senang bisa mendapatkan senyuman hangat dari pelayan di kafe ini. Di rumah, dia hanya merasakan aura ambisi dari kedua orang tuanya. Mereka lebih mementingan pekerjaan, sehingga terlihat selalu serius dan cuek.

“Terima kasih, Mbak,” ucap Kalingga sembari tersenyum, membalas senyuman pelayan itu. Kemudian, Kalingga langsung menyeruput kopi itu dengan santai. Energi Kalingga seperti penuh kembali. Energinya sempat berkurang karena bertemu dengan banyak temannya di sekolah. Iya, Kalingga ini masuk ke tipikal orang introver.

***

Malam ini, tepatnya pukul 18.30 WIB, Kalingga teringat tentang perkataan ayahnya yang akan membicarakan sesuatu padanya. Pas sekali sekarang mereka sedang makan malam. Kalingga ingin menghabiskan makanannya terlebih dahulu sebelum bertanya kepada ayahnya yang sedang meminum segelas air putih.

“Yah, apa yang ingin Ayah bicarakan padaku tadi pagi?” ucap Kalingga selepas selesai menghabiskan makanannya.

Pak Tara yang sedang bermain handphone pun langsung menatap anaknya. “Oh, iya. Ayah hampir lupa,” jawab Pak Tara sembari menaruh handphone-nya di meja makan, “Ayah sudah mendaftarkan kamu kuliah di universitas ternama. Ayah dan Ibu pilihkan kamu masuk ke Jurusan Ekononi dan Bisnis,” lanjutnya.

Kalingga memasang wajah kaget sekaligus bingung dan tanpa pikir panjang kemudian berucap, “Tapi, Yah, Kalingga mau langsung kerja.”

“Kerja di mana? Kamu penerus pemimpin perusahaan Ayah, Ga. Kamu harus kuliah.”

“Kalingga mau mandiri. Selama ini, Kalingga udah terbiasa tanpa kalian. Kalian selalu sibuk, nggak ada waktu buat Kalingga. Dan, nanti setelah lulus, Kalingga mau pilih jalan Kalingga sendiri. Kalingga mau jadi diri Kalingga sendiri, Bu, Yah,” jelas Kalingga dengan spontan.

Keadaan sekarang menjadi memanas. Kali ini, Kalingga berhasil meluapkan semua emosinya. Biasanya, Kalingga hanya diam, enggan menyuarakan isi hatinya.

“Ayah dan Ibu sibuk juga karena bekerja membiayai hidup kamu,” ucap Bu Rengganis menimpali. Pak Tara mengangguk setuju.

“Benar, Bu. Kamu sudah Ayah daftarkan ke sana, Ga. Mau nggak mau, kamu harus nurut sama Ayah, demi nasib perusahaan yang sudah Ayah perjuangkan dari bawah. Demi nasib keluarga kita juga ke depannya.” Kali ini, Pak Tara menimpali dengan nada tinggi. Pak Tara berkeras hati ingin anaknya berkuliah. Karena Kalingga anak satu-satunya, siapa lagi yang akan meneruskan perusahaan Pak Tara jika bukan Kalingga?

Kalingga mencoba tenang. Mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa ini tak akan berakibat buruk. Kalingga sudah terbiasa diatur dan dikekang oleh orang tuanya. Jadi, kali ini dia tidak terlalu kaget dan heran dengan orang tuanya.

“Oke, Kalingga akan kuliah,” putus Kalingga memasang muka datar.

Pak Tara yang mendengar ucapan itu merasa lega. “Nah, itu baru anak Ayah. Harus nurut.”

Suasana mereda. Kegiatan makan malam segera berakhir dengan rasa kecewa di hati Kalingga. Ternyata memang benar, keinginan Kalingga tak bisa terealisasikan semulus yang dia bayangkan. Selama ini, tak ada yang bisa mengerti perasaan Kalingga. Tekanan demi tekanan selalu Kalingga dapatkan. Untung dia masih mengonsumsi obat penenang. Setelah makan malam berakhir, Kalingga meneguk air putih kemudian berjalan perlahan menuju kamarnya.

Sesampainya di kamar, Kalingga merebahkan badannya di kasur. Mata Kalingga menatap santai langit-langit kamar, tak sadar air matanya menetes. Hati dan pikiran Kalingga mulai kacau saat ini. Kalingga merasakan sesal saat menyuarakan emosinya tadi. Seharusnya dia pendam saja jika pada akhirnya akan overthinking setelah menyuarakan itu.

Sadar akan sedih dan overthinking-nya yang makin menjadi, Kalingga langsung bangun dari rebahannya dan mulai mencari obat penenang yang dia sembunyikan di lemari. Tak ada yang tau dengan obat itu, hanya Kalingga saja. Kalingga harus meminum obat itu ketika kacau untuk mengendalikan dirinya. Jika tidak, bisa saja dia akan nekat melakukan hal yang melukai dirinya sendiri.

Iya. Luka batin dan kesepian yang selama ini Kalingga rasakan begitu hebat. Semuanya Kalingga atasi sendiri tanpa bercerita kepada orang lain, bahkan kepada Rama pun tidak. Dia yakin bisa bertahan di kondisinya saat ini.

***

“Kalingga, maaf ya, hari ini Ayah sama Ibu nggak bisa nemenin kamu di acara kelulusan kamu hari ini. Jadwal di kantor padat, dan ada beberapa meeting. Jadi, kami nggak bisa nemenin kamu hari ini. Maaf, ya,” ujar Pak Tara sembari bersiap-siap untuk berangkat ke kantor dibantu Bu Rengganis yang memakaikannya dasi.

Setelah mendengar penjelasan ayahnya itu, seketika hati Kalingga merasa perih. Bagaimana tidak? Untuk datang ke acara penting putranya saja tidak bisa. Mereka malah masih mementingkan pekerjaan mereka.

Kalingga mencoba menyembunyikan sakit hatinya. “Terus Kalingga ditemani siapa, Yah?”

“Ayah udah bilang ke Rangga untuk datang ke acara kelulusan kamu hari ini,” jawab Pak Tara.

Yang akan menemani Kalingga ke acara kelulusannya ialah Rangga. Dia adalah kakak sepupu Kalingga. Iya, anak dari kakak perempuan ayahnya.

“Oke, Yah.”

“Sebentar lagi dia akan sampai ke rumah ini,” jelas Pak Tara, “nah, itu dia sudah datang,” lanjutnya ketika baru saja melihat Rangga masuk dari pintu utama.

“Halo, Om, Tante,” sapa Rangga ke Pak Tara dan Bu Rengganis.

Pak Tara dan Bu Rengganis tersenyum. “Rangga sudah datang, kami berangkat dulu ya, Kalingga,” ucap Pak Tara.

Rangga dan Kalingga langsung menatap satu sama lain dan tersenyum.

“Oke, Yah.”

***

Hari ini semuanya berpakaian gagah dan anggun, tak terkecuali Kalingga. Namun, senyum Kalingga tidak sama dengan yang lain. Pada saat teman-temannya didampingi orang tua di hari kelulusan, Kalingga tidak begitu. Orang tau Kalingga yang sangat sibuk sampai-sampai tidak bisa ikut mendampingi putranya pada hari yang penting ini, hari kelulusan anak mereka satu-satunya.

“Gimana? Udah siap kamu?” kata Rangga dengan senyuman yang terukir di wajahnya.

“Siap, Bang.” Kalingga ikut tersenyum. Meski orang tuanya tidak bisa mendampingi, ada Rangga bisa dibilang kakak yang ramah dan baik.

“Kamu kumpul sama temen-temenmu sana. Abang duduk di sini, ya,” ucap Rangga lagi. Kalingga membalas dengan senyuman lagi dan segera berkumpul bersama teman-temannya. Acara sudah ditata dengan rapi. Semua murid dan wali murid sudah datang. Acara pun segera dimulai.

Setelah acara berlangsung cukup lama, tiba saatnya untuk pengumuman juara utama, yaitu peringkat siswa berprestasi.

“Sekarang kita beralih ke juara kedua! Juara Kedua Siswa Berprestasi ialah....” Semua orang penasaran. “Kalingga Zain Pratama.”

Semua orang tepuk tangan dengan meriah. Kalingga terkejut. Ternyata belajarnya selama ini tidak sia-sia.

“Kepada ananda Kalingga, silakan naik ke panggung,” ucap pembawa acara.

Tanpa ragu, Kalingga langsung beranjak dari tempat duduknya dan menuju ke panggung. Kali ini, dia tidak tau harus sedih atau bahagia. Kalingga memilih untuk tetap tersenyum saja sampai acaranya selesai.

“Untuk wali murid Kalingga, silakan naik ke panggung juga,” ucap pembawa acara itu lagi.

Setelah sampai di panggung, Kalingga dan Rangga berdiri berdampingan. Rangga memberi senyuman bangga kepada Kalingga. Tidak lupa dengan pemberian hadiah dari kepala sekolah kepada Kalingga sebagai sang juara. Kemudian, sesi foto pun dimulai. Hati Kalingga masih perih. Berita bahagia seperti ini seharusnya ikut disaksikan oleh kedua orang tua Kalingga saat ini. Tidak apa-apa. Setidaknya ada kegembiraan yang Kalingga rasakan hari ini. Menjadi juara umum kedua memang hal yang patut Kalingga rayakan.


Cerpen ini ditulis oleh:

1. Misnati

2. Kavita

3. Aknes Wulandari

2 komentar untuk "[CERPEN] Just an Illusion - Bab 1: Kabar Buruk"