Kumpulan Puisi Tentang Benci, Waktunya Introspeksi!


Dalam setiap kehidupan, emosi benci sering kali hadir sebagai bayangan yang menghampiri, menyulitkan untuk diabaikan. Kumpulan puisi tentang benci menjadi cermin bagi perjalanan introspeksi yang mendalam, memperkenalkan kita pada sisi gelap dalam diri yang perlu dijelajahi. Melalui kata-kata yang mengalir, kita diundang untuk merenung, memahami akar dan dampak dari perasaan tersebut, serta mencari jalan keluar yang membawa pada penerimaan dan kedamaian. 

# Puisi 1

 

Merpati Tiada Sayap

Oleh : Wahyu Warningsih

 

Berjalan tak tentu arah

Membawa racun kebencianmu dalam dada

Derai air mata kini tidak terbendung lagi

Sungguh rasa bencimu kepada diri ini menyiksa batinku

 

Aku dan kamu

Tentang rasa berubah menjadi kebencian

Tiadanya kata maaf bagiku darimu kasih

Membawaku gundah dalam lara

 

Aku ingin menerjang

Menebus kesalahan ini

Tetapi, dirimu telah pergi membawa sayapku

Aku tanpamu bagaikan merpati tiada sayap


 

# Puisi 2

 

Mawar Tanpa Duri

Oleh: Wahyu Warningsih

 

Kembali aku merenung

Menatap sang lintang dan rembulan

Meratapi nasib tentang rasa bencimu kepada diriku

Membuatku gundah demi mendapatkan mawar darimu

 

Selalu aku tanyakan

Bagaimana duri kebencianmu hilang

Apakah tidak aku bisa mendapatkan keinginanku

Tentang mawar tanpa duri

 

Sungguh hati ini hampa

Sehampa malam tanpa lentera

Penuh dengan kesepian

Dan tangis sebagai alunan lagu

# Puisi 3

Batas Interaksi

Oleh : Veily

 

Fara,

Apa semua hanya tentang Fara?

Hidupku hanya Fara?

Fara, si istimewa?

 

Fara;

Istimewa

Aku;

Pembawa sial

 

Apakah Fara tidak lelah?

Fara bahagia?

Fara tertekan?

Semua rancu; tapi,

Dia istimewa


 

# Puisi 4

Tidak Ada Kesempatan Ke-3

Oleh : Veily

 

Fara,

Ingat batas kita!

Fara,

Kita hanya teman!

 

Perihal dulu,

Kita memang bersama

Saat itu dan sekarang;

Semuanya berbeda

 

Luka itu sudah mengering

Pedih pun perlahan hilang

Tuntutan yang sudah hilang

Seolah waktu sembuhkan semua

Lantas, perlukah kita mengulang semuanya?


 

# Puisi 5

 

Hidupku

Oleh : Demi Agustiana

 

Untuk apa?

Untuk apa lagi ku hadir disini?

Untuk apa lagi ku harus bertahan?

Bila semua itu tiada arti

 

Dengan semua yang terjadi

Aku muak dengan semuanya

Aku benci dengan hidupku sendiri

Karena hidupku tak berarti apa-apa

 

Entah apa yang terjadi dahulu

Sehingga hidupku seperti ini

Aku lelah dengan semua ini

Maka izinkanlah aku pergi


 

# Puisi 6

Ikatan Yang Usai

Oleh : Demi Agustiana

 

Benci?

Ya, aku benci

Perihal janji manis tapi bohong

Yang kau ucapkan lewat bibir manismu

 

Aku benci akan keadaan

Dan muak akan dirimu

Yang memberikan bahu untuk bersandar

Tapi semua itu hanyalah alibimu semata

 

Sudahlah

Sudah cukup bagiku

Cukup sudah kebohonganmu itu

Dan mari kita akhiri saja sampai disini


 

# Puisi 7

 

Benci

Oleh : Siti Icun Syamsuriah

 

Mengingat tentang dirimu

Sungguh menyesakkan kalbu

Rasa benci kepadamu seperti tak bisa hilang

Telah kuhapus namun tidak pupus

 

Aku tak ingin rasa benci ini abadi

Aku ingin terbebas

Tak ada lagi benci namun aku tak ingin kembali

Kembali kepadamu

 

Aku pernah menyayangimu

Namun kau abaikan diriku

Kau torehkan luka

Yang lama pulih dan tak akan bisa seperti semula

 

Biarkan aku dalam duniaku

Berkelana mencari pengganti dirimu

Yang bisa memberikan cinta kepadaku

Selamanya menyayangiku


 

# Puisi 8

Membencimu

Oleh : Siti Icun Syamsuriah

 

Saat kuungkapkan rasa cinta ini

Kau anggap aku hanya bagaikan adik

Oh tidak!!

Aku tak terima

Aku membencimu

Aku hanya inginkan dirimu

Jadi pasanganku

Bukan saudaraku

Rasa cinta ini kini berubah jadi benci

Pergilah dariku

Biarkan aku menenangkan diri

Mencari pengganti

Pengganti dirimu

Untuk bertahta di hatiku


 

# Puisi 9

 

Aku Membencimu

Oleh : Siti Icun Syamsuriah

 

Aku dan kamu tak ada ikatan apa-apa

Aku dan Dia terikat janji setia

Kamu buat aku terlena

Kamu seperti tak rela aku bersama Dia

 

Kamu goda aku

Kamu usik ketenanganku

Kamu ganggu aku

Kamu ingin aku bersekutu denganmu

 

Tidak!!

Sekuat apapun kamu berusaha

Aku tak akan pergi dari-Nya

Meski aku kadang terlena

Kamu tak akan bisa menjauhkan aku dari-Nya

 

Aku membencimu

Kehadiranmu sangat mengangguku

Tak sedikitpun rasa suka di hatiku

Karena aku sungguh membencimu


 

# Puisi 10

 

Tersirat Namamu

Oleh: Wahyu Warningsih

 

Tersirat namamu dalam kertas

Inginku hapuskan tentangmu dalam gemerlap kebencian

Ragaku seakan tersiksa

Akan bayang-bayang wajahmu

Yang terlukis indah

Dalam kertas kenangan tentangmu

 

Inginku hancurkan kertas ini

Namun, kesepian mungkin melanda

Hanya hampa yang akan menemani

Seperti malam tanpa rembulan

Dan daksaku  tiada jiwa

Karena namamu selalu tersirat dalam benakku


 

# Puisi 11

 

Terlalu Benci

Oleh : Kelompok A

 

Rasaku, inginku, semua tentangku

Kesalku, marahku, benciku

Kuingin menghempas, apakah aku sanggup?

 

Hati yang tersakiti

Cinta yang dihianati

Rasa sakit ini merasuk sukma

 

Akankah sakit terus menyiksa

Akankah hati yang tergores bisa pulih

Rasanya terlalu benci untuk semua yang telah terjadi

 

Namun, hati ini masih mengharapkanmu duhai kasih

Tetapi, melihat luka yang kau gores

Rasa benci ini berkobar bagai api abadi

 

Ragaku seakan hangus olehnya

Hanya kebencian

Dan bercampur dengan derai air mata

 

 


 

# Puisi 12

Laut Kebencian

Oleh : Kelompok A

 

Sudah berapa tahun?

Inikah namanya janji?

Sudah, aku tak percaya lagi!

 

Semua kata yang terucap hanya manis di bibir

Cinta yang kuharap akan abadi tak terbukti

Semua fatamorgana

 

Hanya sebuah bingkai yang terangkai atas nama cinta

Yang akan pecah karna sebuah penghianatan

Sudah lah, aku muak dengan semua kata manis mu

 

Semua kata manismu bagaikan racun tak kasat mata

Dengan panah janji sebagai bilah pisau

Menusuk hatiku

 

Dalam gelap ingin aku hapuskan tentangmu

Seperti tanaman kesakitan yang kau berikan

Aku akan membawamu ke dalam laut kebencian

 

Dalam kekayaan puisi tentang benci, kita menemukan panggilan untuk menggali kedalaman diri, menyelami lapisan emosi yang kadang tersembunyi. Namun, dari setiap bait yang merayakan kegelapan, kita juga menemukan cahaya pencerahan yang menuntun menuju kesadaran dan pemahaman yang lebih dalam. Semoga setiap rangkaian kata ini tidak hanya memperluas wawasan kita tentang benci, tetapi juga mendorong kita untuk bertumbuh, menerima, dan mencintai dengan lebih luas dan tulus.

TENTANG PENULIS

Karya ini ditulis oleh kelompok A untuk mengikuti kompetisi Arisan Karya Komunitas Ufuk Literasi. Berikut adalah nama-nama anggotanya.

1. Wahyu Warningsih

2. Siti Icun Syamsuriah

3. Demi Agustiana

4. Veily

Posting Komentar untuk "Kumpulan Puisi Tentang Benci, Waktunya Introspeksi!"